Categories
Berita Berita KSP Kedeputian Kedeputian II

Keluarga Tangguh Wujudkan SDM Berkualitas dan Generasi Emas Unggul

JAKARTA – Sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas dan generasi emas yang unggul dimulai dari keluarga yang tangguh. Namun untuk memastikan hal tersebut, dibutuhkan kerja sama yang baik dari seluruh elemen masyarakat bersama Pemerintah. Sehingga bisa memastikan bahwa setiap anak di Indonesia dapat tumbuh sehat dengan baik dan berkembang dengan optimal dari keluarga yang bahagia dan sejahtera.

“Kesehatan dan kesejahteraan keluarga adalah fondasi bagi masa depan Indonesia,” ujar Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko pada webinar Keluarga Berencana KEREN untuk Cegah Kematian Ibu dan Stunting dalam rangka perayaan Hari Keluarga Nasional di Jakarta, Jumat (25/6).

Perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) setiap 29 Juni mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. Harganas juga dikenal sebagai dimulainya Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional dan hari kebangkitan keluarga Indonesia, di mana kesadaran untuk membangun keluarga ke arah keluarga kecil bahagia sejahtera melalui KB cukup tinggi.

Dengan keberhasilan program KB, pada tahun 1992 Presiden Republik Indonesia saat itu menetapkan 29 Juni sebagai Harganas. Adapun program KB berkontribusi besar terhadap pencegahan kematian ibu dengan mendorong perencanaan kehamilan untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kesiapan ibu dan keluarga.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin pun menyampaikan, keluarga berencana merupakan pilar pertama dari safe motherhood yang mempunyai peranan penting dalam menurunkan risiko kematian ibu, dan juga membentuk generasi berkualitas.

Pada kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Utama Kedeputian II Kantor Staf Presiden Brian Sri Prahastuti menerangkan, berbagai tantangan termasuk situasi pandemi covid-19 yang kita hadapi saat ini, memerlukan terobosan untuk mempercepat pencapaian target. Khususnya dalam menekan angka kematian Ibu dan Stunting. “Semua pihak harus mendukung konsep inkubasi yang akan dijalankan oleh BKKBN dalam pendampingan keluarga sejak masa pra-nikah dan pra-konsepsi hingga 1.000 HPK,” ungkap Brian.

Sebagai informasi, menurut Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015, dua perempuan di Indonesia meninggal setiap jam akibat komplikasi selama kehamilan, melahirkan, dan nifas. Pada tahun 2020 sendiri tercatat 4.614 kasus kematian ibu yang separuhnya terjadi di Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Sumatra Utara dan Aceh (naik dari 4.196 di 2019). Sementara itu, terjadi 25.269 kasus kematian bayi di tahun 2020 dengan Jateng, Jatim, dan Jabar sebagai tiga daerah penyumbang terbanyak (menurun sedikit dari 26.089 di 2019).

Angka Kematian Ibu (AKI) yang termasuk tertinggi di Asia Tenggara, serta kesehatan ibu, sangat erat kaitannya dengan stunting, yaitu masalah kurang gizi kronis akibat asupan gizi yang tak memadai dalam jangka waktu panjang sehingga pertumbuhan anak terganggu. Sebanyak 27,7 persen balita di Indonesia mengalami stunting, menurut Survei Status Gizi Balita Indonesia 2019.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr. Hasto Wardoyo menambahkan, permasalahan kematian ibu dan stunting berdampak pada kesejahteraan keluarga dan populasi. Namun hal itu bisa dicegah sejak awal. “Bonus demografi kuncinya ada pada remaja. Remaja yang menunda menikah dan tercukupi pemenuhan gizinya dapat membentuk keluarga yang lebih terencana terhindar dari permasalahan kesehatan reproduksi dan stunting,” tegas Hasto.