Categories
Berita Berita KSP

Kastaf Kepresidenan Qodari Pastikan Aktivitas Ekonomi Aceh Tamiang Berangsur Normal

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memantau aktivitas perekonomian pascabencana banjir Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Qodari menyebut denyut ekonomi sudah mulai terlihat dengan dibukanya kembali perbankan, minimarket, hingga warung kopi. Menurutnya, kondisi Pasar Kualasimpang, Aceh Tamiang, sudah cukup ramai meskipun sudah sore hari.

Qodari mencatat adanya keluhan dari para pedagang yang ditemuinya di Pasar. Beberapa poin penting yang diserapnya adalah masalah permodalan dan kebersihan pasar yang akan segera disampaikan baik kepada kementerian, lembaga, maupun dinas terkait. “Kita ke pasar, kita lihat sebagian sudah buka. Memang sudah cukup ramai, walaupun sudah sore. Informasinya, kalau pagi lebih ramai lagi. Kami mendengarkan masukan, saran dan keluhan dari beberapa pedagang, masalah permodalan, dan pembersihan pasar. Nanti kita sampaikan kepada Kementerian/Lembaga dan kepada dinas terkait untuk bisa ditangani,” kata Qodari saat mendatangi Pasar Kualasimpang, Aceh Tamiang, Kamis (15/01/2026).

Qodari sempat berbincang dengan para pedagang di Pasar Kualasimpang. Salah seorang pedagang yang menyampaikan keluhannya kepada Qodari adalah pedagang buah, Misnam, 52. Perempuan yang sudah 34 tahun jadi pedagang, mengaku baru 10 hari kembali jualan buah. “Baru 10 hari jualan, dikasih modal sama tauke (bos), belum ada uang sendiri, dikasih utang dulu, dibantu barang dulu. Daripada ibu stress, jualan aja katanya. Alhamdulilah sudah ada satu dua pembeli,” kata Misnam. Pedagang lainnya, Akhyar Bin Talaha juga mengaku kesulitan permodalan. Pedagang pakaian itu mengaku pembeli sudah mulai ada, walaupun belum banyak.

Tim Kantor Staf Presiden (KSP) yang dipimpin Qodari telah mendatangi dan melihat langsung aktivitas di minimarket yang sudah buka, dan mengunjungi warung kopi yang sudah mulai ramai. Kegiatan ekonomi yang sudah berangsur normal juga terlihat dari aktivitas perbankan di Bank Sariah Indonesia yang sudah mulai melayani sejumlah warga yang datang.

Kastaf Kepresidenan Muhammad Qodari juga menambahkan pemulihan kegiatan ekonomi segera dipercepat agar masyarakat bisa memasuki bulan Ramadhan dan nanti Idul Fitri dengan nyaman dan tenang. Pemerintah, kata Qodari, seoptimal mungkin berupaya memulihkan perekonomian warga. “Itulah sebabnya Bapak Presiden membentuk Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana yang dipimpin oleh Pak Tito Karnavian (Mendagri). Kami lihat di sini, dari pagi sampai sore hari, berbagai macam aspek, nanti akan kami laporkan kepada Kasatgas, agar dapat menjadi perhatian. Agar kondisi lebih baik menjelang bulan Ramadhan, bisa segera dicapai,” harap Qodari.

Qodari menegaskan Presiden Prabowo memberi perhatian yang sangat besar kepada bencana di tiga provinsi yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. “Kalau di Aceh ini, salah satu yang paling parah di Aceh Tamiang. Memang Aceh Tamiang ini posisinya dilalui oleh sungai besar, sungai Tamiang. Ada arahan-arahan instruksi Presiden, lewat Pak Seskab (Teddy Indra Wijaya), berkoordinasi kepada anggota kabinet untuk berbagai sektor, mulai dari pendidikan, perdagangan, kesehatan,” ujarnya.

Qodari mengakui kondisi saat ini tidak bisa sempurna dan pasti banyak catatan, karena bencana banjir di tiga provinsi luar biasa. “Bukan hanya air, tapi yang terberat adalah lumpur. Lumpur itu yang sangat-sangat tidak mudah diatasi. Hasilnya belum sempurna karena skala bencana yang sangat besar, tapi kita yakin optimistis bisa mengatasinya dengan kekuatan nasional sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo,” pungkasnya.

Categories
Berita Berita KSP

KSP Apresiasi Gotong Royong Praja IPDN Percepat Pemulihan Layanan Publik Aceh Tamiang

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memastikan pembersihan kantor pemerintahan terus berlangsung di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Qodari mengunjungi sejumlah praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) untuk memberi semangat membersihkan Mal Pelayanan Publik Kabupaten Aceh Tamiang yang merupakan kantor dinas pelayanan terpadu.

Praja IPDN dan petugas dari PT Wika bekerja sama membersihkan kantor tersebut agar dapat segera digunakan kembali. Mereka sudah beberapa hari bekerja membersihkan kantor tersebut, yang pada saat banjir tertutup banjir sampai ke langit-langit. Para praja yang bertugas membersihkan kantor tersebut, mendapat tugas dari Mendagri Tito Karnavian yang saat ini memimpin Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pemilihan Bencana Sumatra.

“Dalam beberapa hari bekerja, lumpur sudah dikeluarkan. Lantai sudah kelihatan, sedang dibersihkan, untuk selanjutnya nanti diperbaiki dinding-dindingnya supaya bisa digunakan kembali. Kita ucapkan terima kasih kepada adik-adik praja yang ditugaskan dari berbagai provinsi di Indonesia,” kata Qodari di Aceh Tamiang, Kamis (15/01/2026).

Qodari lebih lanjut mengatakan kebersamaan dan kebangsaan ditunjukkan praja yang berasal berbagai daerah dari seluruh Indonesia turut membantu pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang. “Bencana dan musibah terjadi di Aceh Tamiang, yang membantu adalah para praja dari seluruh Indonesia yang bekerja. Keindahan bangsa Indonesia terlihat dengan nyata di tempat ini. Kita doakan supaya cepat pulih, supaya bisa dipergunakan kembali, bisa melayani masyarakat di Aceh Tamiang dengan sebaik-baiknya,” ujar Qodari.

Para praja yang bertugas di Aceh Tamiang berasal dari Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Barat. Praja yang bertugas yang ditemui Kastaf Kepresidenan Qodari antara lain Gusti Ano dan Anata dari IPDN regional Sulawesi Selatan. Gusti mengaku tidak terbiasa dengan situasi bencana, tapi sebagai praja harus bisa menyesuaikan dengan keadaan.

“Yang pasti dapat pengalaman lebih bertugas di daerah bencana,” ujarnya. Sementara itu, Anata mengaku dengan bertugas di Aceh Tamiang, bisa merasakan apa yang dialami warga terdampak bencana. “Bersyukur mendapat tugas di sini, kami bisa membantu masyarakat di sini,” ungkap Anata.

Sebelumnya Kementerian Dalam Negeri mengirimkan 1.138 praja IPDN secara bertahap untuk bertugas di daerah bencana Sumatra. Untuk tahap pertama, sebanyak 413 personel diberangkatkan menuju Medan dan tahap kedua 414 personel ditugaskan ke Aceh. Kemudian tahap ketiga 179 personel. “Sebelumnya sudah ada tim advance, sebanyak 132 personel yang berada di lokasi, sehingga totalnya 11.138 personel,” kata Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Konferensi Pers Pemulihan dan Rencana Strategis Pascabencana Jelang Akhir Tahun di Posko Terpadu Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025).

Categories
Berita Berita KSP

KSP Qodari Pastikan Kegiatan Belajar Mengajar Berangsur Normal di Aceh Tamiang

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memastikan kegiatan belajar mengajar di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, berangsur kembali normal pascabencana banjir. Hal tersebut disampaikan Qodari saat mengunjungi Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Karang Baru, Kamis (15/1/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Qodari berinteraksi langsung dengan para siswa, mengajari mereka berhitung, serta menyerahkan bantuan berupa tas sekolah, buku, dan alat tulis bagi pelajar SD yang terdampak bencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang.

Qodari mengatakan kunjungannya ke Aceh Tamiang bertujuan untuk melihat langsung perkembangan situasi dan kondisi terkini kegiatan belajar mengajar pascabencana. Ia juga menyempatkan diri berdialog dan menyapa anak-anak sekolah dasar.

“Kita menyaksikan bahwa kehidupan mulai berangsur normal kembali kepada ritme yang semula. Tentunya masih banyak PR (pekerjaan rumah) di sana-sini. Misalnya, karena di lantai satu ini terkena banjir, maka kemudian furniturnya sudah rusak. Dalam kondisi darurat, sementara murid duduk di lantai dengan dilapis karpet. Tapi ada juga yang sudah menggunakan furniture, kursi dan meja. Alhamdulillah karena ada lantai dua, ada yang bisa dipakai,” ujar Qodari.

Menurut Qodari, semangat untuk bangkit terlihat jelas, baik dari para guru maupun murid-murid. Ia berharap dukungan dari pemerintah pusat dapat segera melengkapi berbagai kebutuhan yang masih kurang agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan secara normal.

“Untuk di sekolah ini tadi ada (bantuan) tas, buku, dan alat tulis. Mudah-mudahan dengan bantuan sekadarnya ini bisa menambah semangat anak-anak dan bisa kembali beraktivitas belajar mengajar seperti biasa. Harapannya anak-anak tetap semangat, guru-guru tetap semangat, pemerintah kabupaten juga terus semangat, kepolisian tetap semangat, agar segera kembali kepada kehidupan yang normal seperti semula,” tutur Qodari.

Qodari juga mengapresiasi kerja keras bersama antara warga, pihak sekolah, aparat TNI dan Polri, serta relawan yang telah bergotong royong membersihkan sekolah dari lumpur sisa banjir, sehingga sekolah dapat kembali digunakan.

“Alhamdulillah aspek pendidikan mulai normal. Sebelumnya saya dengar sekolah ini lumpurnya sepinggang, tapi hari ini relatif bersih,” kata Qodari.

Kunjungan tersebut mendapat sambutan positif dari kepala sekolah dan dewan guru SDN 1 Karang Baru. Dalam kesempatan itu, turut hadir Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Tamiang, Sepriyanto, yang menjelaskan bahwa kondisi sekolah di wilayah tersebut belum sepenuhnya pulih.

Di SDN 1 Karang Baru, Qodari masuk ke ruang kelas untuk menyapa para siswa, mengajari mereka berhitung layaknya seorang guru, serta memberikan semangat melalui yel-yel dan nyanyian sebagai bentuk trauma healing. Qodari juga meninjau sejumlah ruang kelas yang masih kosong, dengan kondisi plafon rusak dan sebagian ruangan masih tergenang air. Meski belum mengenakan seragam sekolah, antusiasme siswa untuk belajar tetap tinggi.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Aceh Tamiang Sepriyanto menyampaikan bahwa sekitar 85 persen sekolah di Aceh Tamiang terdampak banjir, dan sekitar 50 persen di antaranya telah dibersihkan dengan bantuan TNI, Polri, dan relawan.

“Sampai saat ini pembelajaran belum normal. Pembersihan terus dilakukan dan masih ada sekitar tujuh sekolah mendirikan tenda, terutama sekolah di pedalaman,” ujar Sepriyanto. Ia menambahkan, proses belajar mengajar masih berlangsung dalam kondisi darurat, di mana siswa tidak diwajibkan mengenakan seragam dan dapat memanfaatkan fasilitas lain seperti musala, rumah warga, atau tenda.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala SDN 1 Karang Baru Neti Surya mengaku senang dan bangga sekolahnya dikunjungi oleh Kepala Staf Kepresidenan. Menurutnya, saat ini sekolah masih membutuhkan penggantian sarana dan prasarana yang rusak akibat terendam banjir.

“Alhamdulillah, kita telah dikunjungi pemerintah dari pusat, artinya ini menjadi motivasi bagi kami. Bapak Qodari tadi juga membawa bantuan untuk sekolah kami, untuk penyemangat siswa ada tas, buku, dan alat tulis yang memang sangat dibutuhkan siswa,” tutup Neti.

Categories
Berita Berita KSP

M. Qodari Pastikan Huntara Aceh Tamiang Nyaman dan Siap Dihuni Sesuai Arahan Presiden

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari meninjau langsung progres pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (15/1). Peninjauan difokuskan pada kesiapan hunian sementara (huntara) dan perkembangan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak, guna memastikan pemulihan berjalan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam kunjungannya ke lokasi huntara yang dibangun oleh Danantara di Desa Simpang Opak, Kecamatan Karang Baru, Qodari memastikan pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda segera dapat menempati huntara yang telah disiapkan. Sebanyak 600 unit huntara telah selesai dibangun dan siap digunakan secara bertahap.

“Kami mengecek langsung huntara yang disiapkan Danantara. Kabar baiknya, pengungsi yang selama ini berada di tenda akan segera dipindahkan ke huntara ini,” ujar Qodari di lokasi.

Qodari menjelaskan, peninjauan ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto sebelumnya yang menekankan pentingnya kenyamanan huntara bagi penyintas bencana. Sejumlah perbaikan telah dilakukan, termasuk pemasangan plafon untuk mengurangi panas di dalam hunian serta penyediaan tempat tidur yang saat ini masih terus dilengkapi.

“Huntara ini udah dipasang plafon, jadi tidak panas lagi. Kita juga sudah lihat, ada yang pakai ranjang, yang belum menyusul, sedang dalam proses,” tutur Qodari.

Menurut Qodari, lokasi huntara Simpang Opak sangat strategis karena berada di kawasan yang ramai dan mudah diakses. Di sekitar lokasi terdapat jalan raya, masjid, permukiman warga, warung, dapur umum, klinik kesehatan, serta area bermain anak. Selain itu, di sisi huntara juga tengah dibangun huntap sehingga warga nantinya dapat berpindah secara bertahap dari hunian sementara ke hunian tetap.

“Ini bukan lokasi terpencil. Lebih layak dan manusiawi dibandingkan tinggal di tenda. Di sini fasilitas dasar tersedia, dan di sebelahnya juga sedang dibangun hunian tetap,” jelas Qodari.

Koordinator HAKA Pembangunan Huntara Aceh Tamiang, Yusuf Sitorus, menyampaikan bahwa pemindahan warga dari tenda ke huntara dilakukan secara bertahap untuk memastikan kenyamanan penempatan. Pada Kamis sore, sebanyak 154 kepala keluarga mulai menempati huntara. Warga yang dipindahkan berasal dari Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, yang terdampak paling parah dengan sekitar 300 rumah rusak atau hilang akibat banjir.

“Total 600 unit huntara sudah selesai dibangun dalam waktu sekitar dua pekan. Pemindahan dilakukan bertahap agar penempatan warga lebih tertata dan nyaman,” ujar Yusuf.

Salah satu penyintas banjir, Yandra Saputra, mengaku lega dan senang dapat menempati huntara bersama keluarganya setelah sebelumnya tinggal di tenda pengungsian. “Senang sekali pindah ke huntara ini. Tidak panas lagi seperti di tenda,” katanya.

Selain meninjau huntara, Qodari juga mengecek lokasi pembangunan hunian tetap (huntap) yang dibangun oleh Polri. Saat ini, proyek masih berada pada tahap pematangan lahan. Pada tahap awal, sebanyak 150 unit huntap ditargetkan berdiri dalam waktu tiga bulan ke depan.

“Kami berada di lokasi rencana huntap yang dibangun Polri. Saat ini proses pematangan lahan sedang berjalan. Kita doakan agar pembangunannya lancar dan hasilnya sesuai harapan,” ujar Qodari seraya menyampaikan apresiasi atas peran Polri dalam pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang.

Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, Qodari juga meninjau pemulihan aktivitas masyarakat, termasuk mengunjungi sekolah untuk memastikan kegiatan belajar mengajar telah kembali berjalan normal pascabencana. Selain itu, Qodari mendatangi ATM Bank Syariah Indonesia (BSI), pasar tradisional, serta warung kopi guna memastikan roda ekonomi masyarakat mulai bergerak kembali.

Qodari turut mengunjungi Pondok Pesantren Darul Mukhlisin yang sebelumnya terdampak banjir bandang pada 26 November 2025. Saat ini, area pesantren telah dibersihkan dari material kayu dan lumpur sisa banjir.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pemulihan sosial, Qodari juga menyerahkan bantuan berupa tas sekolah, perlengkapan belajar, serta makanan ringan untuk anak-anak. “Kehadiran negara bukan hanya soal membangun hunian, tetapi juga memastikan aktivitas pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial warga bisa kembali berjalan,” pungkas Qodari.

Categories
Berita Berita KSP

KSP: Ponpes Darul Mukhlisin Aceh Tamiang Sudah Bersih dari Tumpukan Kayu, Pemulihan Jadi Perhatian Pemerintah Pusat

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari memastikan Pondok Pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlisin di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, telah bersih dan terbebas dari tumpukan kayu sisa banjir bandang. Pesantren tersebut menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian pemerintah pusat dalam proses pemulihan pascabencana.

Dalam kunjungan kerja ke Aceh Tamiang, Qodari menyampaikan bahwa pemulihan Pesantren Darul Mukhlisin dilakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan fasilitas pendidikan dan keagamaan yang terdampak bencana dapat segera pulih dan kembali berfungsi.

“Itu disadari oleh pemerintah pusat. Jadi memang tempat ini mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Memang ada instruksi khusus, Pak Seskab (Teddy Indra Wijaya) dan tentunya dengan arahan, melanjutkan arahan dari Bapak Presiden Prabowo untuk menangani pesantren Darul Mukhlisin ini dengan sebaik-baiknya, dengan secepat-cepatnya. Terutama dalam memindahkan kayu-kayu yang memang bertumpuk di sini,” kata Muhammad Qodari saat meninjau lokasi, Kamis (15/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Qodari dalam rangkaian kunjungan kerja untuk memastikan pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang berjalan sesuai arahan Presiden, sekaligus menyalurkan bantuan dan memantau rehabilitasi di berbagai sektor.

Dalam peninjauan tersebut, tim Kantor Staf Presiden (KSP) yang dipimpin Qodari melihat langsung kondisi asrama santri putri yang masih berlumpur serta proses pembersihan puing-puing. Qodari kemudian meninjau kompleks asrama santri putra yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik karena dikelilingi tumpukan kayu besar akibat banjir bandang. Kompleks pesantren seluas sekitar 2,5 hektare ini berada di kawasan seluas lima hektare yang sempat menjadi titik penumpukan material kayu dari aliran sungai.

Di lokasi bekas tumpukan kayu, Qodari mendengarkan langsung penjelasan Pendiri Pesantren Darul Mukhlisin, Haji Zakwan, mengenai kondisi saat banjir terjadi. Dari penjelasan tersebut, Qodari baru mengetahui bahwa posisi pesantren secara tidak langsung menahan laju kayu dan batang pohon besar sehingga tidak masuk ke permukiman warga di sekitarnya.

Qodari juga menyimak kesaksian Pelaksana Tugas Pimpinan Ponpes Darul Mukhlisin, Mulkana, yang menceritakan bagaimana para pengurus dan santri bertahan hidup selama beberapa hari dengan keterbatasan hingga banjir surut, serta kondisi kayu-kayu besar yang sempat mengelilingi area masjid.

Menanggapi kondisi tersebut, Qodari menegaskan bahwa pesantren mengalami dampak kerusakan yang cukup serius akibat banjir, meskipun pada saat yang sama turut menahan material kayu agar tidak menyebar lebih luas.

“Tentunya konsekuensinya adalah pesantren ini rusak di banyak bagian, kena air yang begitu besar dan pohon-pohon, kayu-kayu yang begitu banyak. Juga kena lumpur yang masuk ke ruang kelas. Tapi Alhamdulillah berkat kerja sama semua pihak, Bapak TNI, Polri, dari kehutanan, dari BUMN WIKA. Maka tempat ini pelan-pelan mulai dibersihkan. Kita lihat sudah tidak ada lagi kayunya,” ujar Qodari.

Sementara itu, Haji Zakwan menyampaikan terima kasih atas upaya pembersihan kayu-kayu di lingkungan pesantren. Ia meluruskan informasi yang sempat beredar bahwa kayu-kayu tersebut telah dimanfaatkan.
“Kami meluruskan informasi yang menyatakan kayu-kayu telah digunakan, itu tidak benar. Belum ada kayu yang digunakan, masih utuh. Untuk bisa menggunakan kayu tersebut, kami perlu izin resmi dari pemerintah pusat,” ujar Zakwan.

Mendengarkan hal tersebut, Qodari menyatakan akan menindaklanjuti persoalan izin pemanfaatan kayu untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pesantren melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait.

Zakwan menambahkan, kegiatan belajar mengajar di pesantren sudah kembali berjalan, namun para santri belum dapat kembali tinggal di asrama dan masih harus pulang-pergi karena kondisi asrama putra dan putri belum memungkinkan untuk dihuni.

“Belum bisa boarding, soalnya kondisi asrama laki-laki dan perempuan belum memungkinkan untuk santri menginap. Mungkin secara perlahan akan kami rehab dulu, minta doanya juga agar segala sesuatunya cepat pulih nanti,” pungkas Zakwan.