Categories
Berita Berita Presiden

Presiden Prabowo Terima Laporan Kondisi Ekonomi Nasional, Pemerintah Pastikan Stabil di Tengah Dinamika Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan perkembangan kondisi ekonomi nasional kepada Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 13 Maret 2026. Dalam laporannya, Airlangga menyampaikan bahwa sejumlah indikator ekonomi makro menunjukkan kondisi yang relatif kuat dan stabil.

Airlangga menjelaskan bahwa konsumsi domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut terlihat dari kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) yang tetap tinggi.

“Pertama, kami dapat sampaikan bahwa dari segi ekonomi makro, konsumsi domestik baik, kuat 54 persen dari PDB dan Mandiri Spending Index-nya di angka 360,7,” ujar Airlangga dalam laporannya.

Selain itu, Airlangga juga melaporkan bahwa rasio utang luar negeri Indonesia masih berada pada tingkat yang relatif rendah dibandingkan banyak negara lain di dunia. Ia menyebut bahwa rasio utang luar negeri terhadap PDB masih berada di bawah 30 persen.

“Utang luar negeri masih rendah 29,9 persen dari PDB per hari ini, Pak. Di bawah 30 persen, kondisi per hari ini, Pak,” jelas Airlangga.

Airlangga juga menyampaikan bahwa cadangan devisa Indonesia berada pada level yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, cadangan devisa saat ini mencapai lebih dari 150 miliar dolar Amerika Serikat.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa kinerja perdagangan luar negeri Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, dan tembaga dinilai mampu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

“Kemudian kita ada national hedging, Pak, dari ekspor komoditas yang naik, yaitu batubara, karet, nikel, tembaga ini kemungkinan biasanya naik, Pak. Sehingga dari ekspor kita di komoditas ini 47 bilion USD dibandingkan dengan defisit migas yang 19,5. Jadi itu secara natural saling mengkompensasi,” ujar Airlangga.

Airlangga juga menyoroti meningkatnya penggunaan skema local currency settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional Indonesia dengan sejumlah negara mitra. Menurutnya, langkah ini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap penggunaan dolar Amerika Serikat.

“Kemudian sinergi kuat dengan BI dan juga terjadi peningkatan local currency settlement, Pak, dengan negara-negara Malaysia, Thailand, Jepang, China, yang jumlahnya naik 25,56 miliar, Pak. Dibandingkan tahun lalu hanya 12,9,” kata Airlangga.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga menjelaskan peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai penyangga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah, menurutnya, telah menyiapkan berbagai program belanja untuk menjaga daya beli masyarakat, termasuk bantuan pangan dan pembayaran tunjangan hari raya (THR).

“Kemudian APBN berfungsi sebagai shock absorber dan bantuan untuk pangan 11,92 triliun dan juga THR sekitar 40 triliun, Pak, tahun ini, yang dari pemerintah,” ujar Airlangga.

Sementara itu, dari sisi penerimaan negara, Airlangga melaporkan bahwa kinerja pendapatan pajak hingga awal tahun 2026 menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ia juga memperkirakan bahwa tren positif tersebut akan berlanjut pada bulan Maret, seiring dengan periode pelaporan pajak yang biasanya meningkat pada bulan tersebut.

“Bulan Maret diperkirakan juga lebih tinggi karena seluruhnya kan mesti lapor di bulan Maret, Pak,” tambahnya.

Laporan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global yang terus berkembang, sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

(BPMI Setpres)