Cilacap, Jawa Tengah — Di tengah deru mesin jahit Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (28/7/2026), suasana hangat nan humanis tercipta saat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menyapa langsung para warga binaan yang tengah sibuk memproduksi pakaian.
Sambil mengamati ketelitian para warga binaan memotong kain (cutting), menjahit (sewing), hingga penyelesaian akhir (finishing), Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman tak ragu berdiri di samping meja kerja dan mengajak mereka berbincang dari hati ke hati.
Salah satu momen berkesan terjadi saat Kepala Staf Kepresidenan berdialog dengan salah seorang warga binaan asal Karanganyar, Siswantoro, yang dipidana 5 tahun karena kasus narkotika jenis tembakau sintetis (gorilla). Kepada Kepala Staf Kepresidenan, pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut menceritakan perjalanannya menjalani masa hukuman hingga dipercaya bekerja di BLK Konveksi.
“Setiap satu baju yang dijahit, dapat insentif Rp1.500, Pak. Baru dua bulan di sini (BLK Konveksi Nusakambangan) setelah dipindah, dan alhamdulillah sudah dapat remisi,” tutur Siswantoro di sela aktivitas menjahitnya.
Mendengar cerita tersebut, Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman memberikan dorongan moral, semangat, serta pesan mendalam agar masa hukuman yang dijalani dijadikan momentum berharga untuk introspeksi diri demi keluarga tercinta.
“Sabar ya, insyaallah pasti ada yang terbaik. Jangan diulangi lagi kalau sudah bebas nanti,” pesan Kepala Staf Kepresidenan dengan penuh empati kepada Siswantoro dan warga binaan lainnya.
Tak hanya Siswantoro, dialog hangat juga terjalin saat Jenderal (Purn) Dudung menghampiri warga binaan lain kasus narkotika yang tengah menjalani sisa masa tahanannya. Jenderal (Purn) Dudung menekankan pentingnya memiliki niat kuat untuk berubah dan tidak kembali terjebak dalam lingkaran obat-obatan terlarang setelah menghirup udara bebas.
Menurut Kepala Staf Kepresidenan, interaksi langsung ini memperlihatkan bahwa program pembinaan keterampilan bukan sekadar pemenuhan rutinitas vonis hukum, melainkan wadah pembentukan karakter dan pemulihan martabat.
“Ini pengembangan yang luar biasa. Masyarakat binaan, di samping menjalani hukuman, merasa situasi ini menjadi bekal bagi mereka untuk nantinya setelah keluar punya harapan untuk bisa berbuat baik dan menghasilkan penghasilan bagi keluarga,” tegas Jenderal (Purn) Dudung.
Kesan positif atas kreativitas warga binaan makin menguat saat Kepala Staf Kepresidenan mencicipi es krim olahan singkong hasil budidaya tanaman warga binaan setempat di sela peninjauan.
“Singkongnya ditanam oleh masyarakat binaan juga. Rasanya menurut saya persis dengan kualitas es krim yang ada di kota-kota,” puji Jenderal (Purn) Dudung.
Mengakhiri kunjungannya, Jenderal (Purn) Dudung menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (IMIPAS) atas tata kelola pembinaan yang berorientasi pada kemandirian dan kesiapan kerja warga binaan.
Kantor Staf Presiden memastikan akan terus mengawal pelaksanaan program prioritas Presiden, termasuk membantu menyelesaikan hambatan koordinasi, regulasi, maupun dukungan lintas kementerian/lembaga agar program pembinaan produktif seperti di Nusakambangan dapat berjalan semakin efektif dan berkelanjutan.