Categories
News KSP News Deputies Politics

Penyelesaian Sengketa GKI Yasmin, Moeldoko: Momentum Penguatan Toleransi

Jakarta – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dr. Moeldoko mendukung pembangunan rumah ibadah baru untuk Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin di Bogor, Jawa Barat. Hal ini juga menandai akhir dari 15 tahun polemik penyegelan gereja dan intoleransi beragama di Bogor.

“Ini bukan hanya tentang perihal ijin membangun gedung, namun penyelesaian konflik GKI Yasmin ini bisa terlaksana karena ada kepedulian atas kemanusiaan,” kata Moeldoko, dalam pertemuan bersama Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto beserta pengelola GKI Pengadilan Bogor, Jumat (10/9).

Didampingi oleh Deputi IV KSP Juri Ardiantoro dan Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardani, Moeldoko yakin bahwa penyelesaian sengketa ini menjadi momentum penguatan toleransi dan hidup berdampingan antarkelompok sosial di Indonesia.

Di tahun 2008, Gereja GKI Yasmin disegel oleh pemerintah kota Bogor karena penolakan masyarakat sekitar terhadap bangunan gereja yang berlokasi di perumahan Taman Yasmin dengan luas 1.400 meter persegi. Padahal, gereja tersebut telah mengantongi dokumen izin mendirikan bangunan (IMB) yang dikeluarkan oleh pemkot Bogor pada 2006.

Sebagai solusi atas polemik berkepanjangan ini, Pemerintah Kota Bogor secara resmi memberikan IMB GKI Yasmin atas tanah seluas 1.668 meter persegi di Jalan R Abdullah bin Nuh, Cilendek Barat, Bogor pada 8 Agustus lalu. Lokasi baru untuk pembangunan GKI Yasmin ini pun hanya berjarak sekitar 1 km dari lokasi lama.

KSP selama ini terus memberikan pendampingan atas penyelesaian konflik melalui jalur mediasi yang panjang.

“Maka, dengan penyerahan IMB GKI Yasmin di lokasi yang tidak terlalu jauh dari rencana pembangunan gereja, persoalan GKI Yasmin bisa dikatakan selesai, case closed,” lanjut Moeldoko.

Lebih lanjut, pemkot Bogor dan pihak gereja juga telah mensosialisasikan upaya penyelesaian ini secara internal melalui zoom meeting bersama 4,000 jemaat gereja.

“Kita perlu mensosialisasikan program dan penyelesaian konflik ini. Dalam penyelesaian ini ada kemanusiaan di atas keadilan, dan kami percaya gereja itu mendatangkan damai sejahtera,” kata Bima Arya.

Categories
News KSP News Deputies Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication Politics

Mari Bangun Demokrasi dengan Kepatuhan Hukum, Etika dan Estetika demi ketertiban Sosial

JAKARTA-Maraknya mural di fasilitas-fasilitas publik di beberapa kota yang sebagian diduga menyerang Presiden Joko Widodo mencerminkan bahwa ada kekeliruan mendasar dari persepsi dan praktik demokrasi dari para pembuatnya.

Jika kritik dimaknai sebagai bagian demokrasi, maka tidak boleh mengabaikan elemen-lemen yang mendasarinya. Sebut saja diantaranya kepatuhan hukum, etika, dan estetika demi menjaga ketertiban sosial. Mural-mural yang sengaja ditebarkan yang baru-baru ini menyerang Presiden Jokowi Widodo adalah cermin dari perbuatan yang justru keluar dari ketiga unsur tersebut karena menganggu ketertiban sosial dan kepatuhan hukum, minim nilai-nilai etika dan estetika.

Selain itu kritik haruslah mengandung semangat dan unsur-unsur yang membangun. Termasuk memberi solusi atas berbagai permasalahan yang menjadi obyek kritikan.

Presiden Jokowi berkali-kali menyampaikan bahwa dirinya terbuka akan berbagai masukanmaupun kritik. Bahkan tidak akan menempatkan para pengkritiknya sebagai musuh, termasuk para pembuat mural yang menyerang dirinya.

Seperti yang disampaikan dalam Pidato Kenegaraan 16 Agustus lalu, beliau mengatakan bahwa kritik itu penting bagi bangsa dan negara. Sehingga beliau menyampaikan terima kasih untuk seluruh anak bangsa yang telah menjadi bagian dari warga negara yang aktif dan terus ikut membangun budaya demokrasi.

Jadi, membuat mural-mural itu tidak masalah juga tidak dilarang. Tetapi penting diperhatikan, apakah mural itu diperbolehkan ‘digambar’ di tempat publik tersebut ? Apakah tidak mengganggu kenyamanan masyarakat, dan apakah kontennya tidak menyerang pribadi-pribadi orang secara sembarangan ?

Silakan saja mengungkapkan dan berekspresi untuk membangun demokrasi yang penuh keadaban dan optimisme kita sebagai bangsa.

Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Politics

KSP Dukung Upaya Pemda Gorontalo Menekan Penyebaran COVID-19

Gorontalo – Kantor Staf Presiden (KSP) akan terus mendukung upaya pemerintah daerah Provinsi Gorontalo dalam membentuk kesadaran masyarakat untuk bersama menekan penyebaran COVID-19.

Hal ini disampaikan oleh Tenaga Ahli Utama KSP Ade Irfan Pulungan bersama tim monitoring dan evaluasi KSP yang melakukan verifikasi lapangan selama 3 hari di Gorontalo untuk meninjau penanganan COVID-19 secara langsung disana.

“Provinsi Gorontalo masuk zona merah. Kami tidak menginginkan siklus COVID di Jawa menurun namun di luar Jawa Bali melonjak. Perlu dibuat mitigasi penanganan pandemi COVID-19,” ujar Irfan dalam kesempatan pertemuan dengan Walikota Gorontalo dan Forkopimda, Jumat (13/8) malam

Minggu lalu, Presiden Joko Widodo menyoroti lonjakan kasus COVID-19 yang terjadi di banyak provinsi di luar Jawa. Gorontalo menjadi provinsi dengan lonjakan kasus COVID-19 tertinggi di Indonesia berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Gorontalo bahkan mencatatkan lonjakan kasus COVID-19 sebesar 118% yang kemudian diikuti oleh provinsi Aceh (97%), Sulawesi Tengah (88%), Riau (74%), dan Bengkulu (57%).

Untuk menekan penyebaran covid 19, Pemerintah Provinsi Gorontalo pun kembali memperpanjang Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 yang dimulai dari tanggal 10 hingga tanggal 23 Agustus 2021.

Selain itu, pemerintah daerah juga giat mendirikan posko pengendalian COVID-19 di tingkat desa dan kelurahan. Pemerintah provinsi Gorontalo juga telah menyiapkan fasilitas isolasi terpusat (isoter) di Wisma Atlet Kabupaten Gorontalo. Namun para relawan juga melaporkan tentang tingkat kepercayaan masyarakat sekitar yang masih sangat rendah terhadap resiko COVID-19.

“Kami sudah beri pagar pembatas disini [di area sekitar Wisma Atlet], namun pagar pembatas itu sering dicuri. Biasanya ketika pagi [kami menemukan sudah] hilang, dirusak, karena mungkin ada masyarakat yang kurang percaya [dengan COVID-19],” Lapor Muljanto selaku Koordinator Isoter Kabupaten Gorontalo.

Selain itu, kondisi masyarakat sekitar yang tidak mengetahui keberadaan Isolasi Terpadu di Wisma Atlet dapat beresiko, mengingat tempat yang berdampingan langsung dengan fasilitas publik yang ramai dikunjungi masyarakat sekitar dan dikhawatirkan tanpa menyadari masuk ke area isolasi

“Ini fasilitas kabupaten, biasa orang di luar kabupaten datang olahraga di sini, ada yang dari Bone Bolango, yang dari Boalemo datang kemari mau olahraga, namun mereka tidak tahu ini tempat isoter,” kata Mala, salah satu relawan di Wisma Atlet Kabupaten Gorontalo.

Situasi penanganan COVID-19 di Gorontalo juga diperparah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan di rumah sakit. Salah satunya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aloei Saboe di Kota Gorontalo.

Dengan lonjakan kasus COVID-19 yang sangat tinggi, pihak Rumah Sakit pun berinisiatif untuk menambah sarana tambahan di ruangan-ruangan sementara.

“Namun tidak ada fasilitas AC di sarana tambahan, sehingga ruangan menjadi tidak nyaman dan banyak [pasien] yang minta pulang secara paksa,” kata Mudiharno selaku Wakil Direktur Pelayanan RSUD Aloei Saboe.

Bagaimanapun, KSP menyoroti kegigihan Tenaga Kesehatan yang tanpa henti memberikan pelayanan dalam menghadapi badai pandemi

“Nakes di sini tentu perlu diapresiasi, bahkan ada yang terkena covid 10 kali dan masih tidak menyerah memberikan pelayanan. Ini sangat luar biasa,” ujar Ahmad Agus Setiawan, Tenaga Ahli KSP dalam kesempatannya bertemu dengan perwakilan dari RSUD Aloie Saboe.

Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Politics

Hospitals In Outermost Regions Struggle With Oxygen Shortages

Tarakan —Two single cabin cars and an ambulance belonging to a hospital were parked around the Juata Laut area, Tarakan, and the drivers let the engine keep running. They were waiting for the medical oxygen supply to be brought back to the hospital.

It took around a 40-minute road trip from the city center to the oxygen supply center, PT Tarakan Estetika Plaza in Juata Laut. The company’s production capacity could reach up to 250-300 cylinders with a capacity of six cubic meters of oxygen. The results were distributed to a number of hospitals in the city of Tarakan and its surroundings. “Our machines never sleep,” said Yulius Kwan, the owner of the oxygen filling station.

When the Executive Office of the Presiden (KSP) team visited the factory, Yulius Kwan was seen having a serious conversation with the Bhayangkara Hospital employee who was waiting for the oxygen cylinders to be refilled. Apart from Bhayangkara Tarakan Hospital, a number of other hospitals also lined up at the largest oxygen filling station in Tarakan.

“There is only one sufficient oxygen filling station in Tarakan which is located in Juata Laut. Even with it, the oxygen supply still doesn’t meet our needs,” said dr. Franky Sientoro Sp.A, Acting President Director of the Regional General Hospital (RSUD) Tarakan. Due to the high demand, PT Tarakan Estetika had to shift all of its oxygen supply for medical purposes only. In fact, the company also served some demands for industrial consumption and aquaculture before the pandemic hit the nation.

“We appreciate companies that are willing to adjust their business orientation for humanity. Because the demand for oxygen in Tarakan and Nunukan has skyrocketed due to the rapid transmission of this delta variant," said Agung Rulianto, KSP Senior Advisor.

In addition to the RSUD Tarakan, some other hospitals also lined up for oxygen at the factory, among them were Tarakan City Hospital, Pertamedika Hospital, Bhayangkara Hospital and the Navy Hospital. Shockingly, RSUD Nunukan, which is located on the other side of the island, also took the queue number. "We got the fifth line," said dr. Dulman L, SpOG, President Director of RSUD Nunukan.

The increasing number of Covid-19 patients in Tarakan City overwhelmed Doctor Franky and the health workers. It became inevitable as the RSUD Tarakan became a referral hospital in North Kalimantan Province. Franky said that since the Delta variant began to wreak-havoc in the middle of June this year, the oxygen demand in his hospital could reach up to 300 cylinders.

According to him, a day's need for oxygen reached more than 700 large cylinders with six cubic meter oxygen capacity each. "So the one from Juata is not enough. We also get help from Pupuk Kaltim," said Franky, who is also the Chairman of the Indonesian Doctors Association (IDI) in the Province.

Lack of oxygen supply made Doctor Franky and Doctor Dulman think harder on a strategic move. Franky said he even had to make a priority scale for patients who had COVID-19 admitted to his hospital. "We have no choice but to save the oxygen supply," said Franky.

The increasing need for oxygen in Tarakan is indeed related to the increasing transmission of COVID-19 in this oil city. Tarakan Hospital provides 400 wards for COVID and Non-COVID patients. For COVID-19 patients, 120 beds are provided. "The occupancy rate reached 87 percent with a total of 97 [COVID-19] patients," Franky said on Friday (6/8).

The limited supply of oxygen also pushed doctors like Franky to classify COVID-19 patients into moderate, severe to critical scales. "Those with mild symptoms should stay home alone." The two doctors also suggested residents living at the border areas to remain obedient towards health protocols. In addition, they said, the key to escape from the pandemic was vaccination. Up to the writing of this story, the vaccination in Tarakan City has only reached about 16 percent of the population. Meanwhile, there are 14 thousand people on the waiting list for vaccination. "We are still waiting for the vaccine to come," Franky said.

He sincerely hoped for a herd immunity or communal immunity to be built soon in Tarakan city as the government guaranteed the roll out of the vaccination program. "If so, the city of Tarakan can be free from the pandemic," said Franky.

Government would still continue to overcome the oxygen and vaccine shortages, especially in the outermost areas. “This finding is very important for us. KSP understands the dire situation and we support any efforts to strengthen the COVID-19 responses throughout the country," said KSP Senior Advisor, Agung Rulianto.

Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication Politics

KSP Giatkan Gerakan Sebar Masker “Dari Pintu Ke Pintu” di Bekasi

JAKARTA – Kantor Staf Presiden (KSP) terus menguatkan komitmen dalam penegakan protokol kesehatan di masyarakat dengan memberikan sumbangan ribuan masker untuk para warga di sekitar Kota dan Kabupaten Bekasi melalui program “Dari Pintu ke Pintu”.

Program bagi-bagi masker secara gratis ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat dalam menggiatkan pemakaian masker dan pelaksanaan protokol kesehatan 5M di masyarakat.

Menurut Joanes Joko selaku Tenaga Ahli Utama KSP, pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperkuat penanganan di sektor hilir dengan menambah pasokan obat dan oksigen medis dilapangkan, menambah fasilitas kesehatan untuk penanganan COVID-19 dan seterusnya.

Namun, Ia menambahkan bahwa penanganan COVID-19 tidak akan efektif jika penanganan kesehatan di sektor hilir tidak didukung dengan penanganan kesehatan di sektor hulu. Salah satunya, masyarakat harus memperkuat protokol kesehatan 5M dan membantu proses percepatan vaksinasi, imbuhnya.

“Sejumlah 24 ribu masker donasi ini memang terhitung tidak banyak. Namun ini adalah simbol, sedikit modal awal untuk menaikkan level kita. Bahwasanya, kita bukan sekedar disiplin prokes, tapi kita menjadi bagian yang mengarahkan masyarakat untuk menaati prokes,” kata Joko saat menyampaikan pidato dalam acara penyerahan masker program “Dari Pintu Ke Pintu” di Kantor Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat pada Kamis (29/7).

During his visit, Moeldoko scolded some residents he found unmasked. But on the other side, he also praised some adult residents and kids who adhered to strict health protocols by wearing a mask, even during some indoor activities at home.

“Gerakan ini harus diperkuat karena kita harus jujur kita sedang tidak baik-baik saja. Kita harus berjuang agar masyarakat tidak terpapar COVID-19 tapi di satu sisi masyarakat tidak boleh terkapar dalam urusan ekonomi,” kata Joko. “Oleh karenanya kita harus mengendalikan situasi pandemi ini,”.

Joko juga berpesan untuk tidak ragu dalam mengingatkan masyarakat yang tidak menggunakan masker. Namun Ia juga menghimbau agar himbauan menggunakan masker menggunakan sarana komunikasi dan cara-cara yang baik.

Di Kecamatan Bantar Gebang setidaknya terdapat sejumlah 32,000 kepala keluarga yang tersebar di empat Kelurahan, yakni Kelurahan Bantargebang, Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Ciketing Udik dan Kelurahan Sumur Batu.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Camat Bantar Gebang, Warsim Suryana, setidaknya terdapat 75 warga yang saat ini sedang melakukan isoman.

Kecamatan Bantar Gebang pun sempat dikategorikan sebagai zona oranye karena angka transmisi COVID-19 yang cukup tinggi. Namun saat ini, wilayah Bantar Gebang sudah diturunkan menjadi kategori zona kuning karena hasil sinergi yang baik antara pemerintah, warga dan tenaga kesehatan.

Selain menyerahkan sejumlah masker gratis secara simbolis, tim KSP bersama dengan Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Andhianto, juga mengunjungi Pasar Bantar Gebang untuk melakukan verifikasi lapangan mengenai penggunaan masker di lingkungan pasar.

Beberapa pedagang dan pembeli pun terlihat sudah taat menggunakan masker, walaupun sebagian lainnya masih tidak mengindahkan himbauan protokol kesehatan.

Namun, beberapa masyarakat terlihat antusias dengan program pembagian masker gratis “Dari Pintu Ke Pintu” dan mengantri untuk mendapatkan masker gratis.

“Ini adalah bentuk penghargaan terhadap masyarakat. Jumlah itu bukan prioritas tapi manfaatnya itu yg penting,” ungkap Ketua Relawan Satgas COVID-19 di Kota Bekasi, Suryono.

Bantuan masker gratis melalui program “Dari Pintu ke Pintu” ini juga diberikan kepada warga di sekitar Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kecamatan Setu sempat menjadi salah satu kawasan yang masuk dalam zona merah COVID-19, tiga kecamatan tertinggi dengan kasus positif COVID-19 di Kabupaten Bekasi. Selain itu, program vaksinasi di kecamatan ini masih tergolong rendah.

Rencananya KSP akan terus menggalakkan program penggunaan masker ini dengan membagikan sekitar 500 ribu masker medis ke 220 kelurahan yang tersebar di 20 kota di Pulau Jawa.