Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication

Pembagian Masker Wujud Kolaborasi Perkuat Pelaksanaan Prokes

JAKARTA – Kantor Staf Presiden (KSP) kembali mempertegas pentingnya penegakan protokol kesehatan di masyarakat dengan memberikan sumbangan ribuan masker untuk para warga di sekitar Rawabadak, Kota Jakarta Utara, melalui program “Dari Pintu ke Pintu” Wajib Masker.

Program bagi-bagi masker secara gratis ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat dalam menggiatkan pemakaian masker dan pelaksanaan protokol kesehatan 5M di masyarakat.

Pembagian masker gratis dipusatkan di Sekolah Tinggi Teologi Sunsugos, Jakarta Utara pada Jumat (6/ 8).

Ribuan masker dari program Dari Pintu Ke Pintu ini pun diserahkan secara langsung oleh Deputi IV KSP Juri Ardiantoro bersama beberapa Tenaga Ahli KSP.

Juri mengatakan bahwa program “Dari Pintu ke Pintu” Wajib Masker ini merupakan upaya dari pemerintah untuk memperkuat penanganan COVID-19 baik dari sektor hulu, maupun sektor di sektor hilir.

Juri pun juga menghimbau agar masyarakat memperkuat protokol kesehatan 5M dan membantu proses percepatan program vaksinasi pemerintah.

“KSP memfasilitasi berbagai elemen yang ingin berkontribusi dalam kolaborasi penanganan COVID-19. Seperti yang dilakukan hari ini adalah wujud kerja sama KSP, swasta, relawan nasional, ormas untuk memperkuat disiplin memakai masker,” terang Juri

Juri menegaskan bahwa KSP ingin meringankan beban masyarakat disaat pandemi melalui bantuan masker ini.

“Ini bukan pertama kalinya KSP terjun langsung memberikan bantuan kepada masyarakat sejak awal pandemi. Kami pun bersyukur karena masyarakat percaya pada bantuan yang kami berikan,” imbuhnya.

Tidak hanya masker, KSP juga pernah membagikan alat alat kesehatan seperti kelengkapan APD dan lain sebagainya untuk diberikan kepada rumah sakit dan masyarakat.

Sedangkan pendistribusian masker medis dengan model dari pintu ke pintu rumah warga ini dirancang oleh KSP agar dijadikan percontohan dalam penerapan protokol kesehatan khususnya di kawasan kampung padat penduduk. Masyarakat diharapkan dapat memperoleh masker medis berkualitas tanpa harus keluar rumah dan menciptakan kerumunan.

Sebelumnya, bantuan masker gratis melalui program “Dari Pintu ke Pintu” Wajib Masker ini juga diberikan kepada warga di sekitar Kecamatan Bantar Gebang dan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kepala Staf Kepresidenan Dr. Moeldoko juga telah menginisiasi berjalannya acara ini di kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat pada (22/7).

Rencananya KSP akan terus menggalakkan program penggunaan masker ini dengan membagikan sekitar 500 ribu masker medis ke 220 kelurahan yang tersebar di 20 kota di Pulau Jawa.

Categories
News KSP News Deputies Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication

Ratusan Pekerja Migran Menyerahkan Diri di Nunukan

NUNUKAN – Maria Magdalena duduk menunggu antrian di komplek rumah susun Nunukan, Kalimantan Utara. Kristabelle, anaknya yang masih berusia enam tahun, duduk diatas pangkuan wanita berusia 30-an tahun itu. Perhatian Tim dari Kantor Staf Presiden (KSP) yang mendampingi perlindungan pekerja migran, Kamis (5/8), langsung tertuju padanya.

Kepada KSP, Maria mengaku sudah sebulan berada di Nunukan, Kalimantan Utara. Sebelumnya, selama sepuluh tahun dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Serawak, Malaysia. “Saya mau pulang,” kata Maria, sambil menyebut Adonara, Nusa Tenggara Timur sebagai rumahnya.

Tapi sesampai di Nunukan, agen perjalanan yang sudah menerima pembayaran 2.000 ringgit (sekitar Rp 7 juta) dari Maria, angkat tangan. “Saya sudah bayar ongkos tiket untuk barang dan anak saya juga,” kata Maria.

Masalahnya, sejak sebulan terakhir setiap perjalanan jarak jauh harus dilengkapi sertifikat vaksin. Sang agen tak sanggup memenuhi syarat itu. Mereka langsung ‘melemparkan’ Maria dan anaknya ke kantor Unit Pelaksana Teknis Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UPT BP2MI) di Nunukan.

Maria dan Kristabelle tidak sendiri. Mereka hanya dua dari 204 pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur yang Senin (3/8) lalu tiba-tiba muncul di kantor BP2MI Nunukan. “Mereka ini bukan kami tangkap, tapi menyerahkan diri ke kantor saya,” kata Hotma Victor Sihombing, Kepala UPT BP2MI Nunukan. Agen perjalanan yang sudah menerima pembayaran langsung melepas tanggungjawab.

Victor bergegas melakukan koordinasi dengan sejumlah instansi di Nunukan. Mereka harus segera ditolong. Dari kantor BP2MI, mereka diangkut ke penampungan sementara rumah susun di wilayah Nunukan Selatan. “Siapa yang akan mengurus mereka, ngasih makan, dan tempat tinggal sementara?” kata Victor pada KSP.

Masalahnya kepulangan 204 pekerja migran Indonesia ini tanpa rencana, apalagi pemberitahuan. “Mereka datang secara ilegal lewat jalur-jalur tikus,” kata Victor. Beruntung dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersedia menanggung kebutuhan makan mereka.

Tugas BP2MI Nunukan belum selesai. Mereka masih harus mengupayakan para pekerja migran untuk segera mendapat vaksin. Masalahnya, vaksin masih cukup langka di Nunukan. Dari 180 ribu penduduk Nunukan, baru sekitar sepuluh persen yang menerima vaksin pertama.

Sementara, jika para pekerja migran tidak segera mendapat jatah vaksin, mereka akan terjebak di Nunukan lebih lama lagi. Menurut Victor, pihaknya sudah mengupayakan agar daerah tujuan para pengungsi itu bisa menerima mereka hanya dengan hasil test PCR. “Daerah tujuan masih belum mau (menerima). Tapi kita terus berupaya sambil mengupayakan vaksin buat mereka,” kata Victor.

Kamis pagi tadi, para pekerja migran mendapatkan layanan test PCR. Menurut Abdul Munir, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Nunukan, para pekerja migran akan menjalani dua kali test PCR untuk memastikan mereka tidak terpapar Covid-19. Hingga siang tadi, diketahui ada 6 pekerja migran yang positif. “Kami sudah pisahkan dan isolasi mereka,” kata Munir.

Beruntungnya saat test PCR dilakukan, mereka mendapat kabar kedatangan 25 ribu dosis vaksin untuk Kabupaten Nunukan. “Semoga para pekerja migran ini bisa mendapat jatah. Supaya mereka bisa segera pulang ke rumah,” kata Victor.

Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication

Berikan Efek Jera, Nunukan Perlakukan Colok Swab di Keramaian

Nunukan—Pemerintah Daerah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara memberlakukan tes swab antigen di tempat, jika ada pelanggar Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Upaya keras,namun jitu ini dilakukan untuk mengurangi penularan Covid-19 di kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara bagian Sabah dan Serawak, Malaysia. “Karena di perbatasan, kami memiliki keterbatasan yang banyak sehingga perlu kejutan seperti tes di keramaian,” ujar Bupati Nunukan, Asmin Laura Hafid saat ditemui tim Kantor Staf Presiden di Pendapa Kabupaten Nunukan, Kamis (5/8).

Berdasarkan pantauan KSP, tindakan tersebut mampu membuat efek jera warga. Masyarakat jadi enggan berkerumun. Tak terkecuali, pembatasan waktu makan di tempat maksimal 20 menit juga dipatuhi para pedagang di dekat alun-alun kota. “Pak, makan baksonya sudah hampir 20 menit. Segera selesai ya,” kata seorang pedagang bakso pada tim Kantor Staf Presiden (KSP) yang sedang melakukan verifikasi lapangan.

Asmin berharap tindakan tersebut bisa segera mengurangi angka penularan Covid-19 yang masih tinggi di Nunukan. Lihat saja data RSUD Nunukan hingga 3 Agustus, ada 1.322 kasus aktif Covid-19. 97,3 % atau 1.287 orang diantaranya menjalani isolasi mandiri. Angka kesembuhan mencapai 63,35 % atau 2.290 orang. Adapun jumlah yang meninggal mencapai 61 orang atau 1,6 % dari 3.673 kasus konfirmasi.

Direktur RSUD Nunukan dr. H. Dulman L, M.Kes, Sp.OG menyatakan secara umum mereka bisa menangani kasus Covid-19. Namun masih ada sejumlah kendala. “Kebutuhan oksigen sangat sulit kami dapatkan. Salah satunya terkendala transportasi,” ujar dr. Dulman.

Menurutnya kebutuhan oksigen dalam beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan. Dalam waktu seminggu dibutuhkan kurang lebih 700 tabung oksigen yang masing-masing berkapasitas 6 meter kubik. Sementara pasokan sangat sedikit, sehingga mereka sempat tidak memiliki stok oksigen selama 2-3 hari. “Sekitar pertengahan Juli kami sempat kehabisan stok,” tegas Dulman.

Dulman bersyukur memperoleh bantuan dari seorang pengusaha asal Pulau Sebatik H Herman Baco yang menyuplai langsung 100 tabung oksigen 6M3 langsung dari Tawau, Malaysia. Dulman mengaku tetap mengupayakan ketersediaan oksigen dari sejumlah pihak. Misalnya mengambil dari Kota Tarakan dan Berau. “Problemnya memang di Tarakan juga terbatas. Kami masuk daftar tunggu ke-5 setelah 4 Rumah Sakit yang ada di Tarakan,” tambah Dulman.

Untuk memenuhi kebutuhan pasien, RSUD Nunukan sudah menyiapkan 11 unit ventilator dan generator oksigen. Hal itu dirasa belum mencukupi ditambah Nunukan sebagai daerah terluar Indonesia yang dijadikan pos lintas batas para pekerja migran. Saat ini RSUD Nunukan sedang mengajukan ijin agar bisa menerbitkan PCR Perjalanan. “Kami belum bisa menerbitkan PCR untuk perjalanan. Sekarang kami sedang membangun karena tempo hari kami mendapatkan bantuan PCR Portable dari Kepala BNPB,” imbuh Dulman.

Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Deputy Chief of Staff for Human Development Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication

”We Are Tired”: Rising COVID-19 Cases Take Toll on Health Workers’ Mental State

JAKARTA - As frontline health workers diligently track COVID-19 to stem its spread among the community, many found themselves swamped in excessive fatigue and stress.

The dire situation was directly reported to the monitoring and evaluation team of the Executive Office of the President (KSP) during a 7-days verification program to solve problems that hinder the distribution of medical oxygen, anti-COVID-19 medicines and COVID-19 vaccines to the public.

“The peak of the pandemic in June-July made us exhausted. But all the health workers here have been committed to keep on going, because we are the closest to the people around here,” said dr. Christina br. Ginting, Head of Wanasari community health centers (puskesmas) in Bekasi, West Java, on Friday (30/7).

Contact tracing is an effort to identify people who come into contact with positive Covid-19 patients. The purpose of contact tracing is to control and prevent the spread of the virus on a larger scale.

This effort must not stop even though the COVID-19 daily cases are seen decreasing. Likewise, the public should not be permissive and begin to loosen the discipline of health protocols.

However, efforts to suppress the rate of virus transmission are not without obstacles, especially for health workers. In addition to monitoring the strict implementation of health protocols at the neighborhood units (RT) and community units (RW) level, health workers from puskesmas have to face difficulties in convincing patients or those who have close contact with patients to carry out COVID-19 tests.

“There are still many people who refuse to take tests. If this is the case, like it or not, health workers from the puskesmas must come to them and persuade them one by one,” said Abraham Wirotomo, KSP Senior Advisor.

As reported on the field, if there was a patient tested positive of COVID-19, the health workers would trace at least 15 people who have had close contact with the patient. On the other hand, human resources in puskesmas are very limited, causing health workers to experience extreme fatigue.

Thus, it is not uncommon for puskesmas to rely on cooperation with volunteers or initiatives from local RT/RW residents.

"Empowering surrounding residents can be one solution to strengthen tracing efforts, helping those health workers who are starting to get tired. The more volunteers, the better. Although, this still requires monitoring from the local health center, “added Abraham.

The government has pledged to ramp up mass testing, tracing, and treatment across several to push fast recovery in the country.

Not to forget, the government is also intensifying the vaccine acceleration program to establish herd immunity. Speaking of vaccines, KSP found that several vaccine centers began to report vaccine supply shortages.

"The President has repeatedly said to immediately deplete the existing vaccine stock. Don't hold back. The government guarantees the vaccines’ availability to be safe until the end of the year. The vaccines will be sent to our country gradually,” continued Abraham.

The government continues to strive for the availability of COVID-19 vaccine stocks by bringing in vaccines from various channels and countries. The government again brought in 21.2 million doses of Sinovac vaccine raw materials that arrived at Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang, on Tuesday (27/7).

Indonesia has secured at least 440 million doses of the COVID-19 vaccine until the end of 2021. “However, we need to be grateful that the number of positive cases is decreasing. Queues of patients at health care centers are also no longer visible. The stock of drugs and oxygen are also under control," said Abraham

The KSP team ended the 7-days verification program to several provinces in Java on Saturday (31/7). The program which was initiated by the office also aims to solve problems that hinder the distribution of medical oxygen, therapeutic medicines and COVID-19 vaccines to the public.

Categories
News KSP News COVID-19 Task Force Deputies Deputy Chief of Staff for Information and Political Communication Politics

KSP Giatkan Gerakan Sebar Masker “Dari Pintu Ke Pintu” di Bekasi

JAKARTA – Kantor Staf Presiden (KSP) terus menguatkan komitmen dalam penegakan protokol kesehatan di masyarakat dengan memberikan sumbangan ribuan masker untuk para warga di sekitar Kota dan Kabupaten Bekasi melalui program “Dari Pintu ke Pintu”.

Program bagi-bagi masker secara gratis ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, pihak swasta dan masyarakat dalam menggiatkan pemakaian masker dan pelaksanaan protokol kesehatan 5M di masyarakat.

Menurut Joanes Joko selaku Tenaga Ahli Utama KSP, pemerintah telah berusaha semaksimal mungkin untuk memperkuat penanganan di sektor hilir dengan menambah pasokan obat dan oksigen medis dilapangkan, menambah fasilitas kesehatan untuk penanganan COVID-19 dan seterusnya.

Namun, Ia menambahkan bahwa penanganan COVID-19 tidak akan efektif jika penanganan kesehatan di sektor hilir tidak didukung dengan penanganan kesehatan di sektor hulu. Salah satunya, masyarakat harus memperkuat protokol kesehatan 5M dan membantu proses percepatan vaksinasi, imbuhnya.

“Sejumlah 24 ribu masker donasi ini memang terhitung tidak banyak. Namun ini adalah simbol, sedikit modal awal untuk menaikkan level kita. Bahwasanya, kita bukan sekedar disiplin prokes, tapi kita menjadi bagian yang mengarahkan masyarakat untuk menaati prokes,” kata Joko saat menyampaikan pidato dalam acara penyerahan masker program “Dari Pintu Ke Pintu” di Kantor Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat pada Kamis (29/7).

During his visit, Moeldoko scolded some residents he found unmasked. But on the other side, he also praised some adult residents and kids who adhered to strict health protocols by wearing a mask, even during some indoor activities at home.

“Gerakan ini harus diperkuat karena kita harus jujur kita sedang tidak baik-baik saja. Kita harus berjuang agar masyarakat tidak terpapar COVID-19 tapi di satu sisi masyarakat tidak boleh terkapar dalam urusan ekonomi,” kata Joko. “Oleh karenanya kita harus mengendalikan situasi pandemi ini,”.

Joko juga berpesan untuk tidak ragu dalam mengingatkan masyarakat yang tidak menggunakan masker. Namun Ia juga menghimbau agar himbauan menggunakan masker menggunakan sarana komunikasi dan cara-cara yang baik.

Di Kecamatan Bantar Gebang setidaknya terdapat sejumlah 32,000 kepala keluarga yang tersebar di empat Kelurahan, yakni Kelurahan Bantargebang, Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Ciketing Udik dan Kelurahan Sumur Batu.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Camat Bantar Gebang, Warsim Suryana, setidaknya terdapat 75 warga yang saat ini sedang melakukan isoman.

Kecamatan Bantar Gebang pun sempat dikategorikan sebagai zona oranye karena angka transmisi COVID-19 yang cukup tinggi. Namun saat ini, wilayah Bantar Gebang sudah diturunkan menjadi kategori zona kuning karena hasil sinergi yang baik antara pemerintah, warga dan tenaga kesehatan.

Selain menyerahkan sejumlah masker gratis secara simbolis, tim KSP bersama dengan Wakil Wali Kota Bekasi, Tri Andhianto, juga mengunjungi Pasar Bantar Gebang untuk melakukan verifikasi lapangan mengenai penggunaan masker di lingkungan pasar.

Beberapa pedagang dan pembeli pun terlihat sudah taat menggunakan masker, walaupun sebagian lainnya masih tidak mengindahkan himbauan protokol kesehatan.

Namun, beberapa masyarakat terlihat antusias dengan program pembagian masker gratis “Dari Pintu Ke Pintu” dan mengantri untuk mendapatkan masker gratis.

“Ini adalah bentuk penghargaan terhadap masyarakat. Jumlah itu bukan prioritas tapi manfaatnya itu yg penting,” ungkap Ketua Relawan Satgas COVID-19 di Kota Bekasi, Suryono.

Bantuan masker gratis melalui program “Dari Pintu ke Pintu” ini juga diberikan kepada warga di sekitar Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Kecamatan Setu sempat menjadi salah satu kawasan yang masuk dalam zona merah COVID-19, tiga kecamatan tertinggi dengan kasus positif COVID-19 di Kabupaten Bekasi. Selain itu, program vaksinasi di kecamatan ini masih tergolong rendah.

Rencananya KSP akan terus menggalakkan program penggunaan masker ini dengan membagikan sekitar 500 ribu masker medis ke 220 kelurahan yang tersebar di 20 kota di Pulau Jawa.