Terima DPP Ikhwanul Muballighin, Bersama Perjuangkan Islam yang Santun

Terima DPP Ikhwanul Muballighin, Bersama Perjuangkan Islam yang Santun

Terima DPP Ikhwanul Muballighin, Bersama Perjuangkan Islam yang Santun

JAKARTA - Hari Santri Nasional sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Keppres nomor 22 tahun 2015. Penetapan Hari Santri Nasional pada 22 oktober ini disambut baik oleh DPP Ikhwanul Muballighin, yang mengapresiasi bahwa pemerintah sudah mengakui bahwa santri berperan besar dalam pergerakan perjuangan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Pernyataan itu tersampaikan dalam Silahturahmi Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dengan 29 anggota DPP Ikhwanul Muballighin di Bina Graha Senin,11 Maret 2019.

Ketua umum DPP Ikhwanul Muballighin KH Mujib Khudori menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Joko Widodo dan seluruh jajarannya karena sudah mengakui hal tersebut.

“Saya merasa bahagia dan bangga dapat bersilaturahim dengan kiai dan ulama yang tergabung dalam Ikhwanul Muballighin. Saya sangat dekat dengan kalangan Kiai, karena saya kecil dulu hidup di langgar,” kata Moeldoko menyambut para tamu dari Ikhwanul Muballighin.

Moeldoko menegaskan, pesantren dan masjid merupakan tempat untuk membangun karakter. “Fokus kepada RUU Pondok Pesantren yang sedang digarap, pesan Presiden Jokowi sangat jelas, beliau tidak mau  tradisi yang telah terbangun d ipesantren itu jadi hilang karena tradisi itu tetap dipertahankan,” ungkap Moeldoko.

Jaga Persatuan dalam Pemilu

ikh3Moeldoko menjelaskan, serbuan budaya yang sedang terjadi saat ini dilakukan tanpa batas. Sekitar 88,4 persen masyarakat Indonesia berbicara di media sosial  tentang SARA. Karena itu, Kepala Staf Kepresidenan berharap pemilu tidak memecah belah kita. “Pesta demokrasi ini lima tahun sekali. Masak kita cerai berai karena politik? Mari kita jaga situasi untuk jangan terbawa arus yang akhirnya terpecahbelah,” katanya.

Panglima TNI 2013-2015 ini menekankan, Indonesia merupakan negara besar. Karena itu, saat Presiden Jokowi berkunjung ke Afganistan, mendapat pesan dari Presiden Ashraf Ghani.

“Pak Jokowi hati-hati, negara Indonesia itu negara besar. Negara kami ini hanya 14 suku, luas wilayah hanya sepertga Indonesia, tapi pecah karena konflik,” kata Ashraf Ghani.

Kondisi Indonesia saat ini luar biasa, bisa kumpul setiap saat, Yasinan dengan tenang, kumpul agama tidak ada yang larang. Melalui para Kiai mari kita jaga bersama situasi ini supaya semuanya terus dan selalu menjadi baik.

Ketua Umum Ikhwanul Muballighin KH Mujib Khudori yang hadir bersama Sekjen Anwar Padholi menekankan, anggota Ikhwanul Muballighin tersebar di berbagai kota di Indonesia, dan bertekad memperjuangkan Islam yang santun, bukan Islam yang radikal.

“Kami berharap Presiden Jokowi berkenan hadir pada Rakernas Ikhwanul Muballighin di  Pesantren Az-Ziyadah Jakarta Timur, 22-23 Maret mendatang," ungkapnya.ikh1

 

Close