Sikapi Hasil Pemilu dengan Solutif-Rekonsiliatif

Sikapi Hasil Pemilu dengan Solutif-Rekonsiliatif

Sikapi Hasil Pemilu dengan Solutif-Rekonsiliatif

YOGYAKARTA - Pasca pemilihan umum 2019, arena publik masih dipenuhi wacana-wacana yang tidak memberikan pencerahan bagi masyarakat, masih banyak berita bohong, ujaran kebencian, dan provokasi mengajak people power yang jika dibiarkan akan menimbulkan kekacauan politik.

Untuk itu, Kantor Staf Presiden berharap agar dalam menghadapi pengumuman resmi hasil Pemilu 22 Mei mendatang, umat memberi respon dengan wacana dan langkah-langkah yang solutif-rekonsilitif. Saran itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Abd Rohim Ghazali, mengusulkan kepada publik Muhammadiyah saat berbicara dalam Pengajian Ramadhan yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 9-11 Mei di Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

“Keterbelahan umat dalam Pemilu harus kembali dirukunkan dalam satu kesatuan bangsa yang damai dan senantiasa menghadirkan optimisme,” tegas Rohim.

Menurutnya, sikap politik Muhammadiyah sebelum pemungutan suara sudah sangat bagus, yakni dengan menunjukkan netralitas aktif dan partisipatif. Begitu pun sikap yang disampaikan pasca pemungutan suara, yakni netral aktif solutif.

“Pasca penetapan pemenang nanti sikapnya harus solutif rekonsiliatif,” harap Rohim.

Muhammadiyah, juga Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam besar lainnya, memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga agar umat tetap tenang, mengikuti proses politik dengan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada pihak-pihak yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan seluruh rangkaian proses Pemilu.

Melihat situasi seperti ini, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Azyumardi Azra mengajak umat Islam untuk memberi pencerahan bagi masyarakat.

“Jangan membuat kekacauan, karena jika itu terjadi, yang paling merugi pasti umat Islam karena umat Islam mayoritas di negeri ini,” kata Azyumardi.

Jika terdapat ketidakpuasan, kita boleh saja komplain, protes, tapi jangan lupa juga untuk bersyukur, karena kalau tidak bersyukur, yang ada hanya kegelapan. Azyumardi mengajak agar kita kembali ke akal sehat. Muhammadiyah yang mengusung tema pencerahan harus kembali pada pola pikir yang mencerahkan, tidak terjebak pada atau bahkan dikuasai oleh teori-teori konspiratif.

Lebih jauh, Azyumardi juga mengajak umat Islam untuk belajar pada sejarah perjalanAN negara-negara Timur Tengah yang selalu berperang. “Jika kita gagal mengelola keragaman aspirasi, atau kita larut dalam kebencian satu sama lain, memelihara distrust di antara sesama anak bangsa, bukan tidak mungkin Indonesia akan terpecah belah,” ujar Azyumardi. 

Konsolidasi Nasional

abd2Pengajian Ramadhan Muhammadiyah tahun ini dirangkaikan dengan acara Konsolidasi Nasional yang dilaksanakan di tempat yang sama (Kampus UMY) pada tanggal 8 Mei 2019.

Dalam pengantarnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan beberapa poin terkait dengan dinamika keumatan dan kebangsaan kontemporer.

Dalam bidang politik, Haedar berharap politik Islam ke depan harus dirancang menjadi kekuatan dan sekaligus berwatak tengahan. “Muhammadiyah harus menawarkan rancangan yang konstruktif,” katanya.

Dalam bidang ekonomi, Muhammadiyah harus ikut memikirkan supaya umat tidak lagi dhuafa.

Dalam corak keislaman, Haedar mengingatkan supaya Islam Indonesia perlu diisi. Moderasi Islam perlu dibuktikan dalam ruang publik.

Dalam menyikapi hasil Pemilu, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah harus menerima apapun hasil dengan lapang dada dan siap bekerjasama dengan siapapun yang terpilih secara konstitusional.

Muhammadiyah harus menjadi kekuatan yang berjiwa besar untuk menjadi jembatan bagi semua golongan. Peran ini tidak mudah, namun harus diusahakan. “Sekali konflik terjadi, susah untuk merekatkan kembali keutuhan. Muhammadiyah perlu menjadi contoh dalam merekat kebersamaan. Kita tidak bisa berdakwah, jika negeri ini terpecah belah,” ujar Haedar.

Untuk menjaga agar Muhammadiyah tetap berperan konstruktif secara maksimal untuk kemajuan bangsa dan negara, Haidar menyampaikan beberapa hal: Pertama, tentang dinamika pemikiran. Pasca reformasi, kata Haedar, berbagai paham pemikiran tumbuh dan berdiaspora. Ini menjadi arus baru yang tidak bisa kita cegah. Sebagian mereka masuk ke organisasi arus utama, termasuk Muhammadiyah. “Di satu sisi, kita harus menjaga ukhwah. Namun di sisi lain, bagaimana penguatan paham keislaman dan nilai-nilai ideologis kita di tengah situasi ini perlu diperhatikan,” tuturnya.

Kedua, dalam bidang organisasi. Haedar mengingatkan tentang perlunya menjaga kuantitas dan kualitas. Basis massa para anggota Muhammadiyah perlu dijaga dan diberdayakan.

Ketiga, kaderisasi dalam semua bidang: ekonomi, politik, kecendekiawanan. Haedar memandang bahwa kebutuhan sumber daya manusia untuk ke dalam dan ke luar semakin bertambah. Kader di semua bidang harus terus diperkuat menjadi kader yang ideologis dan profesional. Oleh karena itu, pembinaan perlu dilakukan sejak dari hulu.

Keempat, tentang dakwah di media sosial. Belantara ruang sosial baru ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, Muhammadiyah perlu mengisi ruang sosial berbasis patembayan ini. “Perlu ada rancang bangun dalam bidang dakwah komunitas ini, terutama komunitas virtual,” ujar Haedar.

abd3Kelima, penguatan gerakan dakwah jamaah, yakni dakwah yang dibangun dari dan untuk perbaikan komunitas. Gerakan yang konstruktif ini sudah menjadi komitmen dan terobosan Muhammadiyah sejak tahun 1969, sehingga semakin banyak yang merasakan manfaat dari kehadiran Muhammadiyah.

Keenam, Haedar melihat kualitas amal usaha Muhammadiyah seperti sekolah dan rumah sakit masih menunjukkan disparitas yang tinggi. Yang berkualitas mulai banyak, namun yang berada di level menengah dan bawah juga masih banyak. Kekuatan Muhammadiyah, tumbuh berdiaspora dari bawah, namun kualitasnya harus dibangun dengan jejaring yang kuat dari samping, saling memberdayakan antar amal usaha.

Ketujuh, dinamika pertumbuhan gerakan di masing-masing daerah. Haedar mengajak semua jajaran pimpinan Muhammadiyah untuk saling bergandeng tangan dalam menggerakkan organisasi. Pengalaman kita sangat kompleks. Kekuatan Muhammadiyah justru ada di ranting dan cabang.

Dalam dinamika keumatan, kata Haedar, Muhammadiyah perlu menjadi solusi. Belakangan tumbuh ghirah kolektivitas beragama dan semangat untuk menunjukkan identitas masing-masing. Semangat beragama ini harus dibingkai oleh Muhammadiyah agar tidak menimbulkan friksi atau konflik yang destruktif.

Close