Pemerintah yang Belajar dari Sejarah

Pemerintah yang Belajar dari Sejarah

Pemerintah yang Belajar dari Sejarah

YOGYAKARTA – Pembangunan yang saat ini dikembangkan Presiden Jokowi tak lepas dari perhatian dan pembelajarannya dari sejarah besar bangsa Indonesia. Visi Trisakti yang menjadi pondasi pemerintahannya diilhami dari konsep Trisakti Soekarno tentang kemandirian ekonomi, kedaulatan politik dan berkarakter dalam budaya. Jokowi melihat konsep Trisakti sebagai warisan masa lalu yang tetap relevan menjawab tantangan bangsa.

Penegasan itu disampaikan Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kepala Staf Kepresidenan Eko Sulistyo dalam Temu Akbar Alumni Sejarah di kampus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Sabtu, 18 Maret 2017.

“Sebuah kehormatan bisa menyampaikan pidato kunci di Kampus Biru Bulaksumur bersama Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid di hadapan para alumni sejarah UGM seperti Profesor Taufik Abdullah, Profesor Anhar Gonggong, Profesor Suhartono, Profesor Agus Suwigya, Profesor Bambang Purwanta dan para alumni sejarah UGM dari berbagai angkatan,” kata Eko.

PENDEKATAN JASMERAH

Lebih lanjut ia menekankan, Presiden Jokowi merupakan seorang yang  belajar dari ucapan bapak bangsa Presiden Soekarno tentang ‘Jasmerah’ (Jangan Sesekali Melupakan Sejarah). “Pendekatan Jasmerah dilakukan dalam membuat visi dan kebijakan strategis pemerintahanya,” ungkap Eko. Ia mencontohkan, visi kemaritiman pemerintahan Jokowi adalah cara presiden membangun jembatan masa lalu Indonesia yang pernah menjadi bangsa maritim, tapi kemudian  justru berbalik ‘memunggunggi’ lautan.

ugm3“Visi kembali memandang penting arti maritim ini juga diilhami dari Deklarasi Djuanda (1957) di mana Indonesia sdh mendapatkan kedaulatan atas laut nusantara,” urainya. Hal lain mengenai visi Presiden Jokowi tentang Revolusi Mental adalah sebuah kesimpulan sejarah atas masa lalu bangsa yang hanya fokus pada pembangunanisme pertumbuhan ekonomi, tapi melupakan sisi manusia Indonesia.

Tak kalah penting yakni visi Indonesia sentris Presiden untuk membangun Indonesia pada daerah terluar  dan paling pinggir seperti yg tertuang dalam Nawa Cita. “Kebijakan ini didapatkan setelah mempelajari strategi pembangunan masa lalu yang sangat Jawa sentris,” kata Eko yang juga alumnus Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu,

Terkait politik luar negeri, Eko mengatakan pemerintahan Jokowi mendorong peran Indonesia dalam politik internasional dengan melanjutkan legitimasi kuat masa lalu Indonesia dalam Gerakan Non Blok dan negara-negara Islam dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Close