Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Dunia Industri Temukan Jawaban Tingkatkan Sektor Jasa Indonesia

Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Dunia Industri Temukan Jawaban Tingkatkan Sektor Jasa Indonesia

Pemerintah, Perguruan Tinggi, dan Dunia Industri Temukan Jawaban Tingkatkan Sektor Jasa Indonesia

YOGYAKARTA - Ilmu ekonomi punya rumus yang tak terbantahkan: jika sebuah negara ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka negara itu harus menaikkan investasi, serta meningkatkan daya saing.

Daya saing didapatkan dari efisiensi dan inovasi, tidak hanya pada  industri manufaktur yang selama ini menjadi diskursus publik. Tak kalah penting adalah jasa, karena produksi barang manufaktur membutuhkan jasa yang kompetitif, mulai dari desain dan branding sampai dengan pemasaran dan jasa purna jual.

Penekanan tentang pentingnya sektor jasa dalam mendorong pertumbuhan ekonomi ditegaskan Deputi III Kepala Staf Kepresidenan yang membidangi kajian dan pengelolaan isu-isu ekonomi strategis, Denni Puspa Purbasari saat membuka Diskusi Publik di Universitas Gadjah Mada, Jum’at, 9 Maret 2018.

Diskusi yang terselenggara atas kerjasama Kantor Staf Presiden, Universitas Gadjah Mada dan The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini mengambil tema ‘Menjawab Tantangan Sektor Jasa Indonesia’. Di hadapan 150 mahasiswa magister ekonomi UGM, hadir pembicara Head of Office OECD untuk ASEAN Massimo Grosso, Sekjen Kemristek Dikti Prof. Ainun Na’im, Staf Ahli Menteri Bappenas Rahma Iryanti, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Gumilang Sahadewo, Anggota Dewan Penasihat Indonesia Services Dialogue Taufikurrahman, dan Kepala PusatPerencanaan Ketenagakerjaan KemnakerAgus Triyanto. Diskusi dimoderatori Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Rimawan Pradiptyo.

Denni Purbasari menegaskan, kunci dari sektor jasa adalah sumber daya manusia. “Diskusi ini bertujuan untuk menjembatani dialog antara pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi guna menjawab tantangan di sektor jasa, Bagaimana Perguruan Tinggi di Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri? Apa yang diperlukan perguruan tinggi untuk menutup gap antara kebutuhan dan supply?” paparnya.

Massimo Grosso memaparkan OECD Service Trade Restrictiveness Index (STRI) yang menyebutkan bahwa level restriksi di pasar sektor jasa Indonesia relatif lebih tinggi dari rata-rata 40 negara.

“Ada beberapa cara untuk mengubahnya, yakni membuka restriksi masuknya jasa dari luar negeri, restriksi perpindahan orang, menghilangkan aturan-aturan yang mendiskriminasi, menyelesaikan hambatan untuk berkompeti, serta transparansi dalam regulasi,” katanya.

Sementara itu, Gumilang Sahadewo menyoroti, bonus demografi dan angkatan kerja kita terbesar di Asia Tenggara dan terbesar keempat  di dunia. “Indonesia mendapat bonus 2 juta angkatan kerja per tahun. Persoalannya, bagaimana pemerintah bisa meningkatkan kapabilitas skill SDM? Anggaran pendidikan 20 persen tiap tahun harus dimanfaatkan dengan baik,” katanya.

Peraih PhD bidang ekonomi dari Univerisy of Pittsburgh ini menggarisbawahi fakta tingginya tingkat pengangguran di antara anak muda di Indonesia, apalagi mayoritas dari mereka ternyata lulusan SMA dan SMK. “Dari segi produktivitas, kita masih kalah dibandingkan China, Thailand dan Malaysia. Bonus demografi yang kita punya belum mencerminkan produktivitas yang sesungguhnya,” kata Gumilang.

Gumilang kemudian memaparkan beberapa problem yang ada, di antaranya yakni adanya ‘skill mismatch’. “Sekitar 60 persen pekerja di Indonesia tidak sesuai dengan bidang pendidikannya. Dari angka itu, hampir 10 persen pekerja overqualified, sementara 54 persen pekerja underqualified,” katanya.

Perbaiki Desain Kurikulum

diskusi2Salah satu penyebab persoalan ini, menurut Gumilang, yakni desain kurikulum kita yang kurang responsif terhadap permintaan tenaga kerja dari sisi industri. Lebih dari sepertiga lulusan perguruan tinggi berasal dari jurusan sosial, ekonomi, dan hukum, sementara hanya sedikit yang merupakan sarjana atau ahli natural science (1,6%), informasi dan teknologi komunikasi (9,8%) serta teknik dan manufaktur (9,3%). Bandingkan, untuk bidang engineering and manufacturing saja, Malaysia punya 18,3% lulusan, sementara Vietnam ada 21,4%.

Gumilang mendorong agar anak muda mengisi talenta-talenta yang banyak dibutuhkan, seperti dokter spesialis yang andal, data scientist, serta ahli hukum pada bidang-bidang yang sangat spesifik.

“Anak muda harus banyak meningkatkan kemampuan berbahasa, komputer, thinking skill dan behavioral skill seperti komunikasi dan kepemimpinan,” katanya.

Taufikurrahman mewakili pembicara dari sektor jasa memberikan rekomendasi untuk mengurangi ketimpangan antara lulusan dunia pendidikan dan permintaan industri. “Buatlah peta penawaran dan permintaan pada dunia profesi yang terhubungkan (linked and matched) dengan dunia industri,” katanya.

Selain itu, perlunya kelembagaan kerjasama segitiga, antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri (swasta). “Perguruan tinggi harus responsif terhadap kebutuhan industri. Pemerintah juga harus memberikan insentif kepada universitas dan industri untuk terus melakukan peneltian dan pengembangan,” katanya.

Agus Triyanto dari Kemnaker menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang bisa membuat negara bisa maju, yakni peningkatan SDM, kreativitas, dan terus mendorong inovasi. “Tak perlu risau kalau muncul perkembangan teknologi seperti robotik dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Selama skill kita terus dikembangkan dan inovasi didorong terus, pasti akan muncul lapangan kerja baru,” katanya.

Ia menegaskan, inovasi harus dilawan dengan inovasi baru. “Perguruan tinggi harus menjadi incubator lahirnya inovasi. Demikian pula sekolah kejuruan harus terus mendidik siswanya dalam praktik kerja yang nyata. Kalau tidak nanti SMK akan terus menjadi STM alias Sekolah Teori Melulu,” selorohnya.

Dekan Fakultas Ekonomika dan Budaya UGM Eko Suwardi menutup diskusi publik dengan optimisme. “Banyak sekali manfaat dikusi ini, nisa menjadi tuntunan bagi diri kita masing-masing, terutama agar perguruan tinggi mampu memberi platform baru, membuka wawasan, dan membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkreativitas di zaman now,” pungkasnya.

Close