Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II Lebih “Nendang”

Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II Lebih “Nendang”

Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II Lebih “Nendang”

JAKARTA- Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II yang diumumkan Pemerintah diharapkan memberi dampak yang baik terutama bagi para pelaku usaha.

“Paket kali ini narasinya pendek tapi konkrit. Dalam istilah Presiden lebih ‘nendang’. Harapannya sangat gampang diterima dan dirasakan dampaknya oleh publik, terutama para pelaku usaha,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung dalam konferensi persnya di Istana Negara, Selasa 29 September 2015.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan bahwa dalam paket ini, Pemerintah memutuskan melakukan layanan cepat investasi dengan memangkas perizinan investasi di kawasan industri dari 8 hari menjadi bisa diselesaikan dalam waktu 3 jam. “Dengan izin tersebut investor dapat langsung melakukan kegiatan konstruksi di kawasan industri,” ujar Darmin.

“Dengan kebijakan layanan cepat investasi di BKPM, penyelesaian perizinan badan usaha di kawasan industri hanya memerlukan waktu penyelesaian paling lama 3 jam,” ujar Darmin.

Kepala BKPM Franky Sibarani menjelaskan bahwa izin investasi yang diselesaikan dalam waktu 3 jam itu menghasilkan tiga produk, yakni izin prinsip penanaman modal (investasi), akta pendirian perusahaan dan NPWP.

“Ini berlaku untuk investasi di kawasan industri, sehingga dalam waktu 3 jam investor dapat  langsung memilih tempat di kawasan dan memulai konstruksi,” ucap Franky.

Kriteria yang dapat memanfaatkan layanan cepat investasi, adalah investor yang berinvestasi dengan nilai minimal sebesar Rp 100 Milyar dan/atau rencana penggunaan tenaga kerja Indonesia di atas 1.000 orang. “Untuk di kawasan industri, investor cukup menandatangani komitmen untuk norma-norma tertentu yang sudah ditetapkan kementerian teknis, contohnya AMDAL,” kata Franky.

Presiden, kata Franky, menugaskan BKPM untuk berkoordinasi dengan kementerian teknis lainnya, untuk melakukan pemangkasan perizinan yang menghambat investasi. “Terutama di industri yang menjadi salah satu tulang punggung pembangunan ekonomi kita,” kata Franky.

Close