Moeldoko Imbau Anak Muda Garap Sektor Pertanian

Moeldoko Imbau Anak Muda Garap Sektor Pertanian

Moeldoko Imbau Anak Muda Garap Sektor Pertanian

JAKARTA – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mendorong para pemuda untuk tidak takut ke sektor pertanian. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, sektor pertanian menjadi semakin strategis sebagai penyedia pangan.

“Terjun ke sektor pertanian, bukan berarti pemuda harus turun langsung ke sawah, berlumpur-lumpur. Tapi pemuda bisa menciptakan solusi atas masalah pertanian melalui teknologi,” ujar Moeldoko, saat memberikan sambutan dalam acara diskusi publik pemuda Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bertajuk ‘Sinkronisasi Kebutuhan dan Ketersediaan Pangan Nasional’, Senin 14 Mei lalu.asi1

Di era digital ini, Moeldoko berpendapat, pemuda bisa menciptakan aplikasi daring untuk mempertemukan supply dengan demand komoditas pertanian. Misalnya saja, tiap panen cabai di Banyuwangi, harga cabai sering turun. Padahal, ada kebutuhan tinggi akan cabai di Padang dan Manado. “Dengan aplikasi online, kebutuhan ini bisa dipenuhi oleh produsen dengan cepat,” imbuh Ketua HKTI ini.

Harga sebagai indikator

Berbicara soal ketersediaan dan kebutuhan, Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari memulai presentasinya dengan memaparkan neraca bahan pangan. “Karena sebenarnya ketersediaan dan kebutuhan adalah soal supply dan demand. Soal neraca bahan pangan,” ujarnya.

Bahwa, keseimbangan terjadi ketika supply yang terdiri dari stok awal, produksi domestik dan impor sama dengan demand yang terdiri dari konsumsi domestik, ekspor, dan stok akhir. Keseimbangan ini dipastikan melalui pergerakan harga. Ketika supply lebih kecil daripada demand, harga akan naik. Begitu pula sebaliknya.

“Harga merefleksikan kelangkaan, apa pun penyebabnya, apakah banjir, hama, lahan berkurang atau naiknya permintaan karena Lebaran,” jelas Denni yang membidangi kajian dan pengelolaan isu ekonomi strategis ini.

Denni menyebut, mengobservasi harga mudah dilakukan karena tersedia setiap saat. Sebaliknya, mengestimasi produksi domestik dan konsumsi domestik sulit. Petani kita banyak, tersebar, kecil-kecil, dan ada rotasi tanaman. Sedangkan di sisi konsumsi, penduduk kita banyak, tersebar, dan konsumsinya langsung maupun tak langsung seperti di restoran.

Meskipun sulit dan mahal surveynya, estimasi kebutuhan dan ketersediaan harus dilakukan untuk kebutuhan perencanaan. “Namun sebaiknya, neraca pangan ini hanya untuk bahan pangan/komoditas utama seperti beras, jagung, gula, kelapa sawit, ayam, telur, dan daging sapi,” ujar Denni, yang meraih gelar PhD Ekonomi dari University of Colorado at Boulder.

Untuk memperlihatkan betapa sulitnya mengestimasi produksi, akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menceritakan proses perbaikan data produksi beras dengan metode kerangka sampel area (KSA). “KSA dimulai tahun 2015 dan baru selesai setelah tiga tahun,” beber Denni.

KSA melibatkan 7 lembaga mulai dari Kantor Staf Presiden, Kantor Wapres, ATR, BIG, BPS, LAPAN dan BPPT. Metode ini juga dikatakan yang terbaik saat ini menurut IRRI, IFPRI, FAO dan masyarakat remote sensing mengingat satelit saja kurang akurat untuk Indonesia yang berada di bawah Khatulistiwa, lahan pertaniannya kecil-kecil, dan merotasi tanaman untuk musim yang berbeda.

“Petugas BPS harus dilatih, dibekali HP, dan setiap bulan datang ke titik sampling yang telah ditentukan koordinatnya untuk mengambil foto dan mengirim data.  “Jika tidak berada dalam radius 10 meter dari titik itu, data tidak dapat diterima oleh server,” bebernya.

Meski prosesnya lama dan rumit, Denni menegaskan, KSA berhasil memperbaiki data produksi beras menjadi lebih masuk akal. Karena sebelumnya surplus dilaporkan lebih dari 10 juta ton selama bertahun-tahun. Angka ini tidak klop dengan statistik harga maupun ekspor Indonesia.

KSA tahun 2018 menunjukkan surplus beras hanya 3,38 juta ton saja. Surplus ini menjadi cadangan beras di masyarakat, perusahaan dan Bulog. Meski surplus, namun angka ini jauh di bawah angka cadangan beras tahun 2015, yang menjadi alasan mengapa impor beras masih dibutuhkan untuk menambah cadangan Bulog.

“KSA ini merupakan prestasi pemerintahan Jokowi-JK, mengoreksi overestimasi data yang sudah terjadi sejak lama,” tegas Denni. Dengan KSA perencanaan kebijakan pertanian dan ketahanan pangan diharapkan jadi lebih baik.

Pertanian yang menguntungkan

asi3Lebih jauh, Denni mengatakan, jumlah petani dan luas lahan bukanlah masalah apabila produktivitas, inovasi, dan data saing meningkat. Ekonom yang meraih gelar master dari University of Illinois at Urbana-Champaign ini mengatakan, ketika lahan pertanian menyempit, petani mungkin harus beralih ke tanaman yang membutuhkan sedikit lahan, namun bernilai tinggi seperti hortikultura

Urbanisasi akan terus terjadi. Perempuan makin berpendidikan dan bekerja di kantor. Tidak ada waktu untuk memasak. Bisnis restoran naik. Permintaan makanan sehat dan instan di retailer modern juga naik. Petani skala kecil bisa menjangkau pasar perkotaan melalui sinergi dengan pelaku usaha lain di sepanjang value chain. “Pertanian hanya akan tumbuh dalam jangka panjang bila secara bisnis menguntungkan,” tandas alumnus FEB UGM ini.

Peran pemerintah, menurut salah satu advisor dalam tim ekonomi Wakil Presiden Boediono ini, adalah menyediakan barang publik dasar yang mendukung perkembangan sektor pertanian. Sebut saja, membangun infrastruktur, mendukung research & development, pendidikan pertanian, menyediakan data untuk informasi publik, dan seterusnya.

Adapun, untuk membantu petani miskin, Denni kurang setuju bila HPP beras dinaikkan. HPP gabah saat ini Rp3.700 per kilogram.  Sedangkan Survei Ongkos Usaha Tani 2017 oleh BPS menunjukkan biaya produksi gabah rata-rata nasional Rp2.900 per kilogram. “Menaikkan HPP akan menyebabkan inflasi, yang berdampak pada suku bunga, upah minimum, dan kesejahteraan masyarakat rentan miskin,” jelas penerima beasiswa Fulbright ini.

Untuk mengatasi kesejahteraan, instrumen yang tepat bukan harga, melainkan program perlindungan sosial, seperti program keluarga harapan (PKH), Rastra, KIP, dan seterusnya. “Selain itu kita juga perlu menghadirkan pekerjaan lain di perdesaan selain pertanian,” tutup Denni.

Close