Moeldoko: Gemakan Gaung Capaian Positif Pembangunan

Moeldoko: Gemakan Gaung Capaian Positif Pembangunan

Moeldoko: Gemakan Gaung Capaian Positif Pembangunan

JAKARTA- Kehumasan mesti memiliki agenda, respons cepat, dan strategi komunikasi untuk mengisi ruang berita. Jika tidak, ruang berita akan diisi oleh berita yang tidak jelas.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Staf Kepresidenan sebagai pembicara kunci dalam Rapat Koordinasi Sinergitas Kehumasan Pemerintah yang diadakan di Gedung Sekretariat Negara RI di Jakarta pada Kamis (17/5/2018). Acara ini juga menampilkan Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana dan Adita Irawati, Dirjen IKP Kominfo Rosarita Niken W sebagai pembicara dalam panel diskusi.

Dalam sambutan pembukaan Eko Sulistyo Deputi IV KSP menyampaikan tujuan rakor kali ini adalah untuk manajamkan sinergi antar kementerian dan lembaga. Sinergi menjadi penting agar muncul sikap yang sama dalam merespons situasi yang ada.

Menurut Moeldoko, kini terjadi “perang udara” informasi, sehingga berbagai capaian positif pembangunan harus ditingkatkan gaungnya dan diketahui masyarakat. Karena seperti dikatakan Moeldoko, dalam berbagai kesempatan Presiden masih melihat masyarakat seperti belum tahu apa yang dikerjakan pemerintah. “Kita sudah bekerja kurang apa, tetapi kenapa masyarakat tidak tahu apa yang kita kerjakan,” cerita Moeldoko seperti dikatakan Presiden.

Untuk menjawab harapan Presiden berharap kementerian dan lembaga mesti punya kesamaan pandangan dan tindakan di tengah situasi yang muncul dengan cepat. Kuncinya adalah dengan mengoptimalkan komunikasi dan koordinasi.

Kepala Staf memberi resep agar capaian yang berhasil bisa dieksploitasi dan digemakan lebih kencang. “Setiap kegiatan peresmian yang positif, tolong dieksploitasi, kalau tidak kita rugi,” tegasnya.

Tujuan akhir dari kehumasan pada akhirnya adalah masyarakat memiliki kepercayaan yang tinggi. Untuk itu kementerian perlu punya narasi tunggal, menghindari data yang saling silang, dan perdebatan yang tidak perlu. “Ini semua untuk menjawab keprihatinan pimpinan kita,” tandas Moeldoko.

Sementara itu, Ari Dwipayana menyoroti adanya kesenjangan informasi sehingga kerja keras dan capaian pemerintah belum ditangkap oleh masyarakat. Kesenjangan ini akan memengaruhi persepsi publik yang bisa memunculkan sentimen publik. “Di sini tantangannya, komunikasi harus lebih gencar, karena berpengaruh pada legitimasi dan berujung pada partisipasi masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, ada lima tantangan komunikasi publik di era digital dari sisi pemerintah, yakni kurang banyak, kurang cepat, kurang tepat, kurang sinergis, dan kurang kreatif. Pentingnya respons cepat yang real time menjadi penting.

Lantaran itu, staf khusus presiden ini berharap, humas kementerian dan lembaga bisa memperbaiki kelemahan itu. “Intinya humas harus menghumaskan capaian pemerintah,” ungkapnya.

whatsapp-image-2018-05-17-at-16-21-51

 

 

Sedangkan Rosarita Niken, menyarankan agar kementerian dan lembaga punya tim respons cepat untuk memitigasi media sosial dan media utama. Jika perlu membuat counter narasi untuk meredam isu-isu negatif. “Dalam catatan saya ada 9 kementerian yang sering jadi sasaran hoax dan berita negatif,” katanya.

Staf Khusus Presiden Adita Irawati menyoroti bagaimana humas yang konvensional yang hanya menyebarkan rilis berisi hard news tidaklah cukup. Dicontohkan, peresmian seremonial tidaklah cukup. “Masyarakat ingin tahu apa dampaknya bagi mereka, mengapa dibangun, plus cerita-cerita di baliknya yang unik,” ujarnya.

Close