Merawat Indonesia Lewat Budaya

Merawat Indonesia Lewat Budaya

Merawat Indonesia Lewat Budaya

JAKARTA -  Merawat Indonesia dengan membangun budaya yang kuat tidak hanya dapat dikerjakan oleh penyair, penyanyi, dan seniman lainnya. Pembangunan infrastruktur yang sangat intensif dikerjakan oleh pemerintahan Presiden Jokowi, secara fisik telah membuka keterisolasian. Infrastruktur sebagai salah satu pendorong konektivitas, mempermudah pertemuan dan interaksi antarmasyarakat. Dengan demikian, infrastruktur juga meningkatkan peradaban sebuah bangsa.

Demikian disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dr Moeldoko dalam diskusi ringan kebudayaan di Warung Apresiasi Seni (Wapress), Bulungan, Jakarta Selatan, 14 Mei 2018. Diskusi dihadiri oleh tokoh dan budayawan antara lain Arswendo Atmowiloto, Harry Tjahjono, Roy Marten, Jodhi Judono, dan puluhan seniman dan sastrawan dari berbagai kota seperti Serang, Bojonegoro, Bandung, hingga Mataram.

ep7Hadir pula Dirjen Kebudayaan Dr Hilmar Farid. Ia menyatakan bahwa sudah seharusnya masyarakat Indonesia memajukan dialog dalam menyikapi perbedaan. “Semangat bertukar pikiran akan memajukan peradaban,” kata Hilmar.

Moeldoko bercerita, interaksinya dengan para seniman dan budayawan sudah dilakukannya sejak ia berdinas di dunia militer. “Ketika saya bertugas di Kodam, saya selalu memulai tugas dengan mengumpulkan dan berdiskusi dengan para seniman dan budayawan. Dari merekalah saya mendapatkan informasi dan mendengar apa yang terjadi sesungguhnya di tengah-tengah masyarakat,” kata mantan Panglima TNI tersebut.

ep3Oleh karena itu, setelah dipercaya Presiden Jokowi untuk menjadi Kepala Staf Kepresidenan, dirinya juga membuka jalur komunikasi dengan berbagai kalangan dan lapisan masyarakat melalui program #KSPMendengar.

Kegiatan diskusi ringan yang dihadiri oleh Moeldoko juga menyampaikan pesan bahwa secara umum aparat keamanan dapat mengendalikan situasi keamanan dengan baik, setelah sebelumnya terjadi teror bom di sejumlah tempat di Surabaya.

dep8Mencermati perubahan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, Moeldoko memberikan gambaran bahwa di masa lalu, yang lebih akrab dengan kata “pokoknya” itu adalah militer. Nah sekarang ketika militer sudah lebih terbuka, justru di lingkungan sipil terjadi suasana yang sebaliknya.

Moeldoko mengajak untuk lebih memunculkan dialog dan komunikasi yang terbuka, sehingga dapat meningkatkan kerukunan dan kebersamaan di tengah masyarakat yang berbeda-beda. Moeldoko sangat mengapresiasi kegiatan-kegiatan budaya dan seni, karena hal semacam itu akan menjadi medium yang mempertemukan berbagai pemikiran dan latar belakang yang berbeda-beda.

dep2

Close