Menemukan Kembali Karakter Pemuda: Menjaga Pancasila

Menemukan Kembali Karakter Pemuda: Menjaga Pancasila

Menemukan Kembali Karakter Pemuda: Menjaga Pancasila

KEBUMEN  - Bung Karno dengan lantang pernah menyatakan, kemerdekaan adalah jembatan emas dalam membangun bangsa dan negara. Karena itu, penting membangun karakter bangsa dalam pembangunan bangsa di era kekinian. Penegasan itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Wandy N. Tuturoong saat berbicara dalam forum Sarasehan Nasional bertema ‘Reinventing Karakter Pemuda Indonesia’, Minggu, 14 Mei 2017.

Acara yang digelar Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen ini dihadiri sedikitnya 500 peserta, terdiri dari para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) se-Kabupaten Kebumen, pimpinan pusat Gerakan Pemuda Ansor, KNPI kabupaten dan kota se-Jawa Tengah, organisasi kepemudaan Kabupaten dan Kota Karesidenan Kedu, BEM PTNU se-Nusantara, Badan Otonom NU Kebumen, Majelis Wali Cabang NU se-Kabupaten Kebumen, Fatayat NU, para dosen serta mahasiswa UMNU dan IAINU, serta para guru SMK Ma’arif I Kebumen.

Sarasehan ini juga dihadiri Bupati  Muhammad Yahya Fuad dan Kapolres Kebumen AKBP Titi Hastuti.

Rektor Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama Kebumen, Khomsin Ali Usman dalam sambutannya mengatakan, pemuda memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan pembangunan. “Mari kita merajut kembali pemuda yang ada di KNPI, Ansor, Fatayat, BEM Nusantara, serta PMII dengan karakter Kridatama, yaitu: kritis dalam pemikiran, damai dalam pergaulan, taat terhadap hukum, dan manusiawi dalam perbuatan,.” kata Khomsin.

biny2Kapolda Jawa Tengah Irjen. Pol. Condro Kirono menegaskan pentingnya merajut kembali Kebhinekaan dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini karena negeri kita memiliki aneka ragam suku bangsa, yang jika itu tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan konflik. “Ini penting, agar pemuda dan kita semua memiliki benteng dalam mempertahankan NKRI, sekaligus menghalau ajaran-ajaran yang datangnya dari luar yang relatif ekstri,” kata Condro.

Di sesi diskusi, penyelenggara menghadirkan pembicara dari Kemeterian Pemuda dan Olah Raga, PP Gerakan Pemuda Ansor, PP Fatayat NU, Wakil Rektor IAIN Bengkulu, serta pembicara kunci Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Wandy N. Tuturoong.

Diskusi yang dimoderatori Solahudin ini menggedor semangat juang pemuda Indonesia untuk kembali bangkit memiliki spirit nasionalisme sebagaimana para pemuda pendahulu. Perwakilan PP Gerakan Pemuda Ansor, Wahid Jumali memandang bahwa istilah reinventing berarti ada yang hilang dan ditemukan kembali karakter pemuda Indonesia. “Ansor terdepan menolak radikalisme. Ansor ada di garda terdepan melawan kelompok yang mau meruntuhkan NKRI dan Pancasila,” tegas Wahid berapi-api.

Ketua Fatayat NU Jawa Tengah, Khizanaturrohmah memandang bahwa pendidikan karakter pemuda tidak lepas dari peran keluarga sebagai unit terkecil. “Fatayat sebagai ibu muda perlu mempersiapkan diri untuk bisa melahirkan generasi yang baik,” ungkapnya.

Wakil Rektor IAIN Bengkulu, Mohamad Dahlan yang juga penulis buku ‘Membumikan islam menurut fiqih ke-NU-an Jokowi’ menjelaskan bahwa lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ menunjukkan semangat bela tanah air, yaitu Indonesia. “Selama ini memang ada ruang kosong yang luput dari perhatian kita semua sehingga ruang kosong itu diisi para teroris dan kelompok radikal lain,” urai Dahlan.

Dahlan tak luput mengapresiasi visi Presiden Jokowi melalui program pembangunannya membangun dari pinggiran. “Di situ banyak orang NU dan kaum nasionalis, yang ideologinya sama dengan ideologinya orang-orang NU, imoderat dan toleran. Karena itu, orang-orang NU harus berada di barisan Presiden Jokowi, ” kata Dahlan.

bin3Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Wandy N. Tuturoong selaku pembicara kunci dalam kegiatan sarasehan ini menegaskan bahwa para santri sudah pasti nasionalis karena pendiri negeri ini kebanyakan berlatarbelakang santri. Wandy menyatakan, akhir-akhir ini memang ada kelompok-kelompok yang nampak telah mengganggu NKRI dan Pancasila, namun sesungguhnya mereka tidak punya akar historis atas berdirinya republik ini. “Bagi saya, tak ada kekhawatiran kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sepanjang NU masih terlihat kuat seperti ini,” kata Wandy.

Ia menyatakan dukungannya pada gagasan UMNU Kebumen yang mengusung visi ‘Kridatama’ untuk mengedepankan pelaksanaan nilai-nilai Pancasila. Kridatama di kampus ini memiliki empat unsur nilai dasar Pancasila yang saling terkait sekaligus merupakan akronim. Yakni kritis dalam berpikir, damai dalam pergaulan, taat terhadap hukum dan manusia dalam tindakan yang berdasarkan dan dalam rangka menegakkan nilai-nilai Pancasila.

“Akronim Kridatama yang menjadi falsafah UMNU tentu sangat positif dalam pembangunan karakter bangsa ini. Dan itu sesungguhnya bagian dari program revolusi mental Presiden Jokowi,” kata Wandy.

Close