Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia 2017

Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia 2017

Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia 2017

JAKARTA - Optimisme merupakan hal penting untuk mewujudkan perubahan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Tahun baru 2017 ini, seluruh komponen masyarakat maupun pemerintah harus saling bekerja sama untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia agar mencapai titik maksimal.

Namun, untuk terus membangun optimisme perubahan ekonomi tersebut, para pelaku pasar harus menakar sejauh mana kinerja pasar modal dan kondisi ekonomi makro Indonesia.

Hal ini menjadi pembahasan dalam diskusi dan media update bertopik ‘Menakar dan Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia 2017’, Jum'at, 5 Januari 2017, di ruang utama Kantor Staf Presiden, Bina Graha, Jakarta.

Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki menggarisbawahi penelitian Bloomberg bahwa Indonesia dianggap memilki performa positif dari segala aspek pertumbuhan ekonomi selama kepemimpinan Presiden Jokowi.
“Indonesia memiliki performa positif di berbagai aspek yakni nilai tukar, pertumbuhan ekonomi dan kepercayaan publik,” kata Teten.

Apresiasi itu dibenarkan oleh Chief Equity Strategist Deutsche Bank, Heriyanto Irawan. Ia menekankan, ibarat rumah, stabilitas rupiah sangat penting untuk membangun perekonomian Indonesia. “Kalau rupiah melemah dampaknya ke daya beli masyarakat dan perekonomian secara umum,” ungkapnya.

db-pereseHeri menyatakan, sejauh ini rupiah masih tergolong ‘aman’ terutama bila dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain. Menurutnya, terdapat tiga pilar yang dapat mempengaruhi kondisi mata uang sebuah negara, yakni fundamental flow, local flow dan foreign flow. “Dari tiga faktor itu, fundamental flow memegang faktor terpenting. Sampai saat ini, Indonesia masih tersehat dan berada pada posisi kuat,” ungkapnya.

paparanpolSementara itu, Senior Advisor Bursa Efek Indonesia, Poltak Hotradero meyakini bila Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 Indonesia sangat konservatif, sebab pemerintah Indonesia kini sangat mengutamakan kredibilitias.

“Masuk tahun baru memang ingin ‘membeli’ kredibilitas. Misalnya sekarang, pola belanja Pemda lebih ditekankan untuk tidak boleh main-main terhadap APBN,” kata Poltak.

Deputi III Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Kantor Staf Presiden, Denni Puspa Purbasari menjelaskan, gestur atau gaya pemerintah dalam mengelola keuangan negara ini dapat dilihat dari penggunaan APBN. “Seperti dari Dana Alokasi Umum, tax amnesty, dan pembangunan infrastruktur,” kata Denni.

Close