Kuliah Umum di Singapura, Moeldoko Paparkan Kinerja Jokowi dan Tantangan Kemajuan Indonesia

Kuliah Umum di Singapura, Moeldoko Paparkan Kinerja Jokowi dan Tantangan Kemajuan Indonesia

Kuliah Umum di Singapura, Moeldoko Paparkan Kinerja Jokowi dan Tantangan Kemajuan Indonesia

SINGAPURA -- Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dr.Moeldoko memberikan kuliah umum dengan topik ‘Indonesia under President Joko Widodo’s Administration: Achievements and Challanges in Securing the World’s Largest Archipelago’ di Sheraton Tower Singapura, Jumat 6 Juli 2018. Kuliah yang diprakarsai Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU) berlangsung dua jam dan dipandu langsung oleh Ong Keng Yong, Executive Deputy Chairman RSIS. Hadir dalam acara itu, Dubes RI untuk Singapura Ngurah Swajaya dan Profesor Dewi Fortuna Anwar, Ph.D.

Moeldoko bukan sekali ini saja memberi kuliah umum untuk RSIS. Pada 29 Oktober 2014, Panglima TNI 2013-2015 itu juga diminta memberikan kuliah dan kajian kritis mengenai ‘TNI Future Challenges and Opportunities’ di tempat yang sama. Kemarin sebelum memberikan kuliah, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko juga menyempatkan sarapan bersama dengan Menteri Luar Negeri Vivian Balakrishnan dan makan siang oleh Menteri Pertahanan Ng Eng Hen.

Kinerja dan Tantangan

fo2Menurut Moeldoko, topik Keberhasilan dan Tantangan Presiden Jokowi dalam mengamankan Negara Kepulauan Terbesar di Dunia memang menarik untuk didiskusikan setelah Indonesia sukses mengelar Pilkada serentak di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Juga menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang berlangsung April 2019. Terutama bagaimana Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi menghadapi perubahan global, teknologi informasi dan geopolitik di kawasan Asia Pasifik. Juga bagaimana cara pemerintahan Jokowi mengatasinya.

“Saat ini Indonesia seperti negara lain, hidup di dunia yang bergejolak. Pengaturan global dan regional memberikan tantangan dalam menciptakan stabilitas di era penuh gangguan,” katanya.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut salah satu upaya Indonesia aktif menghadapi perubahan adalah mengadopsi Making Indonesia 4.0, sebuah peta jalan menghadapi revolusi terbaru yang bergantung pada Internet of Things (I0T), Artificial Intelligence (AI) dan robotika.

“Perlu diketahui, pergerakan manusia, barang dan jasa telah meningkat pesat, melebihi dari apa yang pernah kita saksikan sepanjang sejarah manusia,” kata Moeldoko.

Pria asal Jawa Timur tersebut memaparkan bagaimana Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi aktif mempromosikan mekanisme untuk menghadapi perubahan global, dengan meningkatkan stabilitas keamanan regional dengan peta baru geopolitik dengan berkurangnya Amerika Serikat dan meningkatnya kekuatan Cina.

Dukungan Indonesia terhadap pembicaraan di kawasan Indo-Pasifik sudah disampaikan beberapa kali oleh Presiden Jokowi yaitu, bahwa ASEAN harus dapat memainkan peran sentral dalam mengembangkan kerangka kerja kerjasama Indo-Pasifik.

Membangun Kemitraan

Demi mendukung stabilitas ekonomi dan politik di kawasan, menurut Moeldoko, Indonesia akan secara aktif mengundang negara-negara mitra untuk memperkuat kerja sama. “Saya mengusulkan embrio proyek ini beberapa tahun yang lalu sebelum saya ditunjuk sebagai Kepala Staf di Kantor Staf Presiden,” kata Moeldoko.

Di bidang keamanan, ayah dua anak itu menyingung soal ancaman terorisme dan ideologi ekstrimisme yang memguat di kawasan Asia Pasifik. Secara khusus, ia memaparkan Indonesia terus menerus bertindak mengatasi dan mencegah aksi terorisme. Contohnya setelah rentetan serangan terorisme dan bom di Surabaya dan Pekanbaru, pemerintah mengusulkan UU Terorisme baru yang menyediakan pelaksana keamanan dengan langkah yang memadai untuk mencegah serangan serupa terjadi. Pada Mei 2018, DPR mengadopsi UU yang diusulkan dan adanya peningkatan koordinasi antara pelaksana keamanan. Presiden Jokowi memerintahkan pengaktifan kembali Komando Operasi Gabungan untuk kebutuhan itu. “Sekalipun langkah ini sangat dikritik oleh beberapa kelompok namun diperlukan, “ kata Moeldoko.

Moeldoko juga menegaskan kalau Indonesia memperhitungkan betul bagaimana risiko yang lebih besar jika teroris berupaya menjadikan kawasan Indo Pasifik sebagai medan perang untuk ISIS. “Ini adalah tantangan bersama agar kita harus bekerja sama untuk memerangi terorisme."ujarnya.

Doktor Ilmu Administrasi dari Universitas Indonesia ini juga memaparkan kemajuan Indonesia selama hampir 4 tahun di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Di antaranya pembangunan infrastruktur. Tujuan dari proyek infratruktur adalah meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia, juga menciptakan keadilan sosial. Sebagai negara besar dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki sekitar 5,8 juta km persegi luas laut.

“Dengan ukuran sebesar itu, membangun infrastruktur sangat penting. Tol di darat meningkatkan kinerja ekonomi, dan pemerataan sosial. Tol laut berfungsi sebagai jembatan untuk menghubungkan pulau-pulau di Nusantara serta untuk menciptakan dan meningkatkan koneksi dan hubungan di antara orang-orang,” kata Moeldoko.

Selain itu, menurut Moeldoko, proyek-proyek energi akan menyediakan warga dari negara kepulauan ini dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari mereka. Indonesia sudah merampungkan infrastruktur listrik 93 persen dari target 99 persen. Indonesia juga membangun program jaminan kesehatan dan pendidikan, melakukan reforma agraria dan perhutanan sosial. Realiasasi reforma agrarian tahun 2015-2017 mencapai 87 persen.

Moeldoko juga memaparkan tantangan ekonomi Indonesia, mengenai sumber untuk pendanaan pengembangan proyek-proyek itu. Pemerintah Indonesia menyambut negara-negara mitra untuk meningkatkan investasi mereka di Indonesia. Pemerintah Indonesia menyediakan investasi ini dengan peraturan yang jelas dan stabil untuk memastikan keamanan dari investasi ini. Selain itu, pemerintah juga tanpa lelah mengurangi kompleksitas peraturan tersebut. “Presiden Joko Widodo sendiri telah menandatangani Peraturan Presiden 91/2017 untuk mengurangi hambatan untuk berinvestasi di Indonesia,” ungkapnya.

Close