KSP Upayakan Penyelesaian Masalah Warga Pegunungan Kendeng

KSP Upayakan Penyelesaian Masalah Warga Pegunungan Kendeng

KSP Upayakan Penyelesaian Masalah Warga Pegunungan Kendeng

JAKARTA- Kantor Staf Presiden (KSP) terus melakukan upaya penyelesaian masalah warga pegunungan Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen di wilayah mereka. KSP juga sangat peduli terhadap tuntutan warga yang khawatir mata air yang di pegunungan Kendeng tercemar dengan kehadiran pabrik tersebut.

Selasa (12/4) pagi, Kepala Staf Presiden Teten Masduki didampingi Deputi V bidang Hukum, Pertahanan, Keamanan dan HAM Jaleswari Pramodharwardani mengunjungi langsung warga Kendeng, sebelum sembilan orang ibu-ibu menggelar aksi menyemen kaki di depan Istana Negara siang harinya.

Deputi V Jaleswari Pramodharwardani mengatakan, pertemuan dengan warga ini untuk mendengar langsung aspirasi dan mencari solusi bersama sebagai bukti kepedulian istana terhadap masalah ini. Dari pertemuan tersebut, warga sangat berharap bertemu Presiden Jokowi untuk melaporkan fenomena yang dialami di sekitar pegunungan Kendeng.

“Mereka meminta pembangunan pabrik tidak diteruskan. Aksi menyemen kaki dilakukan sebagai simbol bahwa ini bagian dari persoalan kita semua,” katanya.

demokaki2

Kepala Staf Presiden Teten Masduki berjanji akan menjadwalkan pertemuan warga dengan Presiden. Namun warga diminta bersabar menunggu agenda pertemuan itu karena menyesuaikan dengan kesibukan Presiden.

Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunritno mengatakan, kedatangan wakil pemerintah dalam hal ini Kantor Staf Presiden yang telah menemui rombongan ibu-ibu pejuang dari Kendeng sebagai itikad baik.

Ia juga mengatakan, aksi sembilan ibu-ibu menyemen kaki sebagai aksi lanjutan dari apa yang disampaikan satu tahun lalu di tempat yang sama yaitu depan istana Negara. Hingga saat ini nasib warga Kendeng masih sama dengan satu tahun yang lalu di mana belum menemukan titik terang atas persoalan yang dihadapi.

“Kami percaya bahwa masih ada nurani Bapak Presiden khususnya dan penguasa negeri ini untuk rakyat kecil sebagaimana diniatkan dalam Nawacita. Kami tidak butuh semen, kami butuh tanah dan air untuk pertanian kami, anak cucu kami sekarang dan akan datang,” katanya.

Di sela-sela demonstrasi di depan istana, Jaleswari Pramodharwardani kembali menemui warga Kendeng dan menyalami mereka satu persatu.

“Saya menguatkan mereka tanpa bicara sepatah katapun ke media, apalagi orasi. Intinya kita peduli dengan apa yang dialami mereka,” ujarnya.

 

Close