KSP: Peran Perguruan Tinggi Mutlak Diperlukan dalam Membangun Asmat

KSP: Peran Perguruan Tinggi Mutlak Diperlukan dalam Membangun Asmat

KSP: Peran Perguruan Tinggi Mutlak Diperlukan dalam Membangun Asmat

YOGYAKARTA - Dalam membangun daerah termasuk Wilayah Indonesia Timur dan Asmat khususnya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perguruan tinggi dengan kajian akademik dan kekuatannya menjangkau masyarakat perlu secara aktif bekerjasama dengan pemerintah sehingga kebijakan yang diambil pemerintah bisa tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pernyataan itu ditegaskan Deputi V Bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-Isu Politik, Hukum, Pertahanan, Keamanan, dan HAM Strategis Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani, dalam paparannya di seminar nasional bertajuk ‘Merajut Gap Sosial-Budaya dalam Pengelolaan Sumber Daya Manusia di Wilayah Indonesia Timur: Bincang Sehari tentang Asmat’ yang diselenggarakan Pusat Studi Kawasan Indonesia Timur, Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Yogyakarta, Sabtu, 11 Mei 2019.

“Peran Perguruan Tinggi Mutlak Diperlukan dalam Membangun Asmat,” kata Jaleswari.

Jaleswari menekankan, dengan kondisi geografis dan dinamika sosiologis yang ada, membangun Asmat memiliki tantangan tersendiri yang tidak mudah untuk diatasi. Kolaborasi lintas sektor mutlak diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Asmat. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran tersendiri yang perlu ditingkatkan untuk membangun Asmat.

Turut hadir sebagai pembicara dalam seminar ini antara lain Uskup Keuskupan Agats-Asmat, Papua Mgr. Aloysius Murwito. O.F.M, Bupati Asmat Elisa Kambu, Rektor Universitas Cenderawasih Dr. Ir. Apolo Safanpo, S.T., M.T. serta Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) Paulus Wiryono Priyotamtama, S.J.

Dalam kesempatan itu Mgr. Aloysius Murwito, O.F.M. memaparkan bahwa ada kompleksitas tersendiri dalam membangun Asmat, karena terdapat pertemuan antara nilai modernisasi yang mulai masuk dengan tradisi yang sudah lama bertahan di masyarakat.

“Selain itu, membangun Asmat juga memiliki tantangan tersendiri dikarenakan kondisi geografis Asmat yang sulit dan akses transportasi yang terbatas,” tambah Bupati Asmat, Elisa Kambu.

Terkait tantangan sosiologis di Asmat tersebut, Paulus Wiryono Priyotamtama mengatakan bahwa APTIK dapat mengambil peran untuk memperluas kerjasamanya Bersama perguruan tinggi di Papua dan Papua Barat dalam mengkaji dan menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi Asmat.

Sedangkan terkait tantangan geografis Asmat, Jaleswari Pramodhawardani mengatakan bahwa Presiden sudah memberikan arahan untuk memperkuat Asmat dalam tiga bidang utama, yakni, akses perhubungan darat & sungai, permukiman, serta sanitasi.

Jaleswari juga mengemukakan bahwa untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia di Asmat secara khusus, dan Papua serta Papua Barat secara umum, Presiden telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2017 tentang Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan. Provinsi Papua Barat yang berisi strategi lintas Kementerian dan Lembaga dalam mengakselerasi peningkatan kualitas hidup masyarakat di Papua dan Papua Barat.

Rektor Universitas Cendrawasih, Apolo Safanpo menekankan bahwa tidak cukup program pemerintah saja yang perlu diandalkan dalam pembangunan sumber daya manusia di Papua dan Papua Barat.

“Masyarakat Papua dan Papua Barat sendiri pun harus memiliki mental bersaing dan tidak tergantung pada kebijakan proteksionisme, terutama di era revolusi industri 4.0. seperti sekarang ini,” ungkap Apolo Safanpo.

bil2

Close