Kepala Staf Presiden Temui Serikat Petani di Salatiga Jawa Tengah

Kepala Staf Presiden Temui Serikat Petani di Salatiga Jawa Tengah

Kepala Staf Presiden Temui Serikat Petani di Salatiga Jawa Tengah

SALATIGA-Indonesia berhutang budi pada petani dan pertanian rakyat. Tantangan sekarang dari petani dan pertanian rakyat adalah memulihkan lingkungan, menguasai tanah dan alat produksi lainnya, lalu secara bersama menghasilkan pasokan komoditas yang kontinyu dalam jumlah dan mutu yang sanggup mengisi kebutuhan, dan terutama melalui perdagangan. Dalam ekonomi global, kita tidak bisa hidup terisolasi. Perdagangan penting dalam menghidupkan ekonomi rakyat. Potensi petani-petani Indonesia mengisi pasar dunia sangat besar. Bagaimana serikat-serikat petani sanggup menjadi pelaku pasar yang berpengaruh.

Demikian salah satu pesan utama, Kepala Staf Presiden Teten Masduki saat berpidato dalam acara Rapat Umum Anggota Serikat Paguyuban Petani Qoryah Toyybah (SPPQT) di Kota Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu 4 Juni 2016.

SPPQT telah berkiprah sejak pendiriannya di tahun 1999, dengan semboyan “Dari, Oleh, Untuk dan Bersama Petani”. Saat ini beranggotakan paguyuban-paguyuban petani yang tersebar di Kota Salatiga, Kab Semarang, Kab. Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kendal, Batang, Grobogan, Boyolali,dan Sragen. Selain itu, SPPQT memiliki 11 lembaga pendidikan setingkat SMP dan SMU, 1 Universitas, dan 1 pendidikan usia dini. SPPQT juga mempunyai koperasi simpan pinjam, 1 di sekretariat SPPQT, 1 di Pabelan Kab Semarang, 1 di Boyolali, dan 1 di Sragen. Selain itu juga ada 28 lembaga ekonomi bernama gardu tani di 28 paguyuban.

Selama ini SPPQT bekerja memulihkan lingkungan, terutama dengan cara konservasi sumber-sumber mata air dan energi, yang menjadi sumber dari bagi keberlangsungan pertanian rakyat.

“Saya senang bisa hadir di sini, di tengah-tengah para penggerak petani SPPQT, maupun para penggerak dari jaringan petani lainnya di Jawa Tengah,” demikian ungkap Teten.

Di awal tahun 2016, Pengurus SPPQT pernah mempresentasikan konsep pemberdayaan desa kepada Presiden Jokowi di hadapan Menteri Pertanian, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, dan Kepala Staf Kepresidenan. Presiden kagum dan meminta pengalaman SPPQT dijadikan sumber pelajaran dan inspirasi.

“Keinginan Presiden pembangunan dari desa dan pinggiran mesti diatasi secara komprehensif melalui redistribusi lahan, pengelolaan hutan bersama dan oleh masyarakat dan desa, dan pembangunan desa hutan, desa nelayan, desa pertanian, dan lainnya,” ujar Teten.

WhatsApp-Image-20160604

Dalam pidatonya Teten mengajak semua menghargai dan memuliakan perjuangan petani, melalui kerja-kerja yang baik dari organisasi-organisasi petani telah memberi contoh mengenai bagaimana peran aktif masyarakat desa dalam mempertahankan, memperbaiki dan memajukan pertanian dan pedesaan. Melalui berbagai inisiatif, program dan kegiatan yang diusahakannya, organisasi-organisasi petani telah mendidik anggota dan pengurusnya supaya memahami situasi kesulitan objektif dan subjektif yang dialami petani dan masyarakat pedesaan pada umumnya.

Serikat-serikat petani terus mempertahankan penguasaan dan pemanfaatan tanah, sumber daya alam, dan wilayah kelola rakyat. Serikat-serikat tani juga telah mengembangkan usaha-usaha bersama dalam menata produksi pertanian, pengolahan produk, dan distribusi hasil-hasil pertanian yang lebih menguntungkan secara sosial, ekonomi dan ekologi.

Organisasi tani seperti SPPQT memiliki jasa besar dalam mengembangkan pola pertanian yang mengandalkan kerjasama petani dalam semangat gotong-royong. SPPQT juga memberi contoh bagaimana produktivitas pertanian dapat dipertinggi sehingga hasilnya lebih meningkat secara kuantitas dan kualitas sembari menjaga keseimbangan dan keberlanjutan layanan alam terus dipertahankan bagi kehidupan generasi selanjutnya. Singkatnya, petani adalah sokoguru bagi pembangunan berkelanjutan.

Teten mengajak untuk bergotong royong mewujudkan desa yang berdaulat secara politik, yang berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara kebudayaan.

“Presiden punya komitmen dan pandangan yang bagus. Ini adalah momentum yang penting dan mari kita bersama-sama memanfaatkan momentum ini. Masalah utama saat ini adalah kesenjangan sosial dan ekonomi. Kami di Kantor Staf Presiden sebagai dapur pemikirannya Presiden, bekerja menjadi panca-indra Presiden, melakukan pemantauan atas pelaksanaan proyek-proyek prioritas nasional, dan mengusulkan kebijakan, kelembagaan, agenda-agenda dan cara-cara untuk mencapai janji-janji Presiden yang berada dalam kerangka Nawacita,“ jelasnya.

WhatsApp-Image-20160604 (2)

Setelah Pidato, dan dialog. Kepala Staf Kepresidenan berdiskusi dengan kalangan jaringan penggerak Reforma Agraria, Teten menerima laporan-laporan mengenai perkembangan kasus-kasus konflik agraria yang terjadi di berbagai lokasi di Jawa Tengah, berkenaan dengan pembangunan di sektor kehutanan, perkebunan dan pertambangan.

Penyelesaian kasus-kasus konflik agraria sekarang ini sesungguhnya berada di kementerian dan lembaga-lembaga pemerintah pusat dan daerah yang juga berperan dalam pembuatan kebijakan sektoral dan daerah, dan yang lebih penting pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan itu. Konflik-konflik agraria sebagai akibat-akibat dari kebijakan agraria tidak boleh dianggap sepele, dan merupakan tantangan yang harus bisa diurus dan diselesaikan dengan komitmen, kebijakan cara-cara yang baru. Teten mengajak para penggerak agraria untuk terus bersama-sama mengusahakan komitmen pejabat pemerintah, dan terbitnya kebijakan dan cara-cara penyelesaian kasus-kasus itu, dengan melihat Kantor Staf Presiden sebagai dapur pemikiran kebijakan Presiden.

Close