Kenangan Kepala Staf Presiden Bersama Adnan Buyung, Pengalaman di Tunisia, Dari Menulis Disertasi hingga Diberi Jas

Kenangan Kepala Staf Presiden Bersama Adnan Buyung, Pengalaman di Tunisia, Dari Menulis Disertasi hingga Diberi Jas

Kenangan Kepala Staf Presiden Bersama Adnan Buyung, Pengalaman di Tunisia, Dari Menulis Disertasi hingga Diberi Jas

JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki punya pengalaman mengesankan bersama Almarhum Adnan Buyung Nasution. Teten bercerita pada tahun 1990, ia bersama Adnan Buyung berada di Hamamet, kota tepi pantai, tujuan turis yang terkenal di Tunisia.

“Waktu itu saya dikirim oleh YLBHI untuk mengikuti kursus selama 3 bulan untuk para kandidat pemimpin NGO dari seluruh dunia. Bang Buyung waktu itu salah satu pengajar mengenai topik "Gerakan Bantuan Hukum di Indonesia,” tutur Teten mengenang pengalamannya seraya menyebut yang mengajar di sana banyak tokoh pergerakan dunia dari berbagai negara.

Teten melanjutkan, saat itu Bang Buyung juga sedang menyelesaikan kuliah doktornya di Utrech Belanda, setelah kantor advokatnya di Jakarta harus tutup karena aktivitas melawan penguasa.

“Jadi hampir setiap hari seusai kursus atau pada malam hari, kami duduk berdua di depan komputer dan menulis disertasi beliau lembar per lembar dan dikirim ke sekretaris Bang Buyung di Belanda,” ujarnya.

Menurut Teten, konsep gerakan bantuan hukum struktural yang dirintis mendiang di Indonesia dijadikan model oleh banyak pergerakan di banyak tempat. Bahkan, Prof. Daniel Lev, Indonesianis yang menekuni perkembangan hukum, menuliskan gerakan bantuan hukum yang dirintis Adnan Buyung dalam sebuah buku yang indah untuk dibaca.

“Saya ingat, saat kami berdua, Bang Buyung bicara secara lisan lalu saya mengetiknya. Acapkali terjadi diskusi yang alot mengenai konsep-konsep yang akan ditulis. Kalau bahan disertasi sudah di email ke Belanda, Bang Buyung biasanya mengajak jalan santai menikmati suasana petang yang indah di Hamamet dan mentraktir saya makan yang enak,” kenang Teten.

Bahkan, Kepala Staf Kepresidenan ini mengaku jas pertama kalinya adalah pemberian Adnan Buyung.

“Saya diberi hadiah jas bermerek oleh Bang Buyung, dan itu jas pertama yang saya punya,” ujarnya.

Kejadiannya waktu itu, Adnan Buyung bertanya padanya, "Kamu bawa jas? Ini mau masuk musim dingin.”

Teten menjawab, “Tidak punya, saya cuma bawa jaket sepotong,”

Lalu Adnan Buyung membuka jas yang dipakainya dan diberikan ke Teten.

“Jas itu pula yang saya pakai waktu saya menikah pada tahun 1995 dan sampai sekarang saya koleksi sebagai kenangan dari tokoh pergerakan kemanusiaan  yang saya hormati,” kenang Teten.

Menurut Teten, Adnan Buyung adalah sosok yang mempunyai hati yang bersih dan selalu ringan tangan membantu orang yang membutuhkan. Sebelum meninggalkan Tunisia menuju Belanda, Bang Buyung juga memberi uang saku 300 USD dan meminta Teten membeli pakaian yang pantas. Itu karena beliau selalu berpakaian rapi.

“Semoga ajaran, jasa-jasa dan kebaikan Bang Buyung untuk kemajuan gerakan HAM dan demokrasi di Indonesia, tetap dikenang oleh kita semua dan mendapat tempat di sisi Allah SWT. Amien,” tutup Teten.

Close