Ditemui Kepala Staf Presiden dan Mensesneg, Begini Akhir Aksi 9 Kartini dari Pegunungan Kendeng

Ditemui Kepala Staf Presiden dan Mensesneg, Begini Akhir Aksi 9 Kartini dari Pegunungan Kendeng

Ditemui Kepala Staf Presiden dan Mensesneg, Begini Akhir Aksi 9 Kartini dari Pegunungan Kendeng

JAKARTA- Sembilan ibu-ibu pendemo yang mengecor kakinya dengan semen di depan Istana Negara akhirnya mau melepaskan cor semen di kakinya. Sembilan kartini dari Kendeng ini melakukannya setelah Kepala Staf Presiden Teten Masduki bersama Mensesneg Pratikno mendatangi mereka pada pukul 18.35 WIB di halaman Monas, Jl Medan Merdeka Barat, Rabu 13 April 2016.

Seperti diketahui, mereka melakukan aksi ini sejak Selasa 12 April 2016 sebagai wujud protes keberadaan pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng. Mereka berharap bisa bertemu Presiden Jokowi melaporkan kondisi mereka saat ini. Selain merusak mata air, mereka keberatan didirikan pabrik semen di wilayah pertaniannya.

“Kita akan atur pertemuan setelah Presiden pulang dari kunjungan kerja ke Eropa. Presiden akan ke Eropa dan pulang tanggal 24 April. Mungkin bisa diagendakan, Pak Presiden akan menyediakan waktunya," kata Teten di hadapan para demonstran.

Setelah mendengar usaha dan upaya yang terus dilakukan istana menyelesaikan masalah ini, mereka mau melepas cor semen di kakinya. Suasana haru terlihat dari wajah mereka. Beberapa dari mereka sempat menitikkan air mata lalu membubarkan diri.

20160413121912

Sehari sebelumnya, Teten Masduki juga telah menemui mereka pada Selasa (12/4) pagi didampingi Deputi V bidang Hukum, Pertahanan, Keamanan dan HAM Jaleswari Pramodharwardani.

Deputi V Jaleswari Pramodharwardani mengatakan, harapan warga hanya ingin bertemu Presiden Jokowi untuk melaporkan fenomena yang dialami di sekitar pegunungan Kendeng.

Sementara itu, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunritno mengatakan, kedatangan wakil pemerintah dalam hal ini Kantor Staf Presiden yang telah menemui rombongan ibu-ibu pejuang dari Kendeng sebagai itikad baik.

“Kami percaya bahwa masih ada nurani Bapak Presiden khususnya dan penguasa negeri ini untuk rakyat kecil sebagaimana diniatkan dalam Nawacita. Kami tidak butuh semen, kami butuh tanah dan air untuk pertanian kami, anak cucu kami sekarang dan akan datang,” katanya.

Close