Di Era Revolusi Industri 4.0, Data adalah Raja

Di Era Revolusi Industri 4.0, Data adalah Raja

Di Era Revolusi Industri 4.0, Data adalah Raja

JAKARTA - Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, dunia kini memasuki era Revolusi Industri 4.0, yakni menekankan pada pola digital economyartificial intelligencebig datarobotic, dan lain sebagainya atau yang dikenal dengan fenomena disruptive innovation.

Menghadapi tantangan tersebut, Kantor Staf presiden menginisiasi kegiatan Anak Muda Indonesia untuk Revolusi Industri 4.0, sebagai pendekatan youth outreach. Dalam program ini, telah terpilih 7 mahasiswa cemerlang dari kampus terbaik di Indonesia yaitu Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk dikirim ke beberapa acara pameran industri dan konferensi teknologi tingkat dunia.

Sebelum terbang ke Hannover dan Amsterdam, Tujuh anak muda tersebut mendapatkan sesi pembekalan dari Kantor Staf Presiden. KSP menyiapkan dua narasumber dari perusahaan start-up yang ternama di Indonesia yaitu Go-Jek dan Bukalapak.

Head of Competitive Intelligence Go-Jek, Mas Imam Aulia Azmi menekankan, data is the new oil atau data merupakan ‘minyak’ baru”. “Go-Jek merupakan perusahaan yang ‘data driven’, artinya Go-jek mengandalkan data yang valid disetiap pengambilan kebijakan perusahaannya,” kata Mas Imam Aulia Azmi.

bl2Sebagian dari anak muda terpilih ini merupakan pendiri dari bisnis start-up,  Mas Imam berpesan pada dasarnya setiap perusahaan harus memiliki SWOT analisis. Yang paling utama diperhatikan adalah opportunity dan threat dari kompetitor perusahaan.

“Untuk membuat start-up tidak harus selalu beda dari kompetitor, tapi lihat lagi SWOT terutama opportunity dan threat dari kompetitor,” kata Mas Imam.

Pesan terakhir dari Head of Competitive Intelligence Go-jek yang juga merupakan lulusan cum-laude UGM ini adalah perhatikan setiap lalu lintas data.  “ data merupakan hal yang terpenting di era Revolusi Industri 4.0. Jangan pernah memberikan password kepada siapapun dan harus berhati-hati terhadap file yang di-shared,” kata Mas Imam.

KUNJUNGAN KE BUKALAPAK

Untuk sesi kedua, pembekalan datang dari Vice President of Engineering BukaLapak Ibrahim Arif. Menurutnya, anak-anak muda ini tergolong hebat karena di usia muda sudah memiliki industri start-up.

“Budaya jual beli online di Indonesia berbeda dengan Eropa. Negara-negara di Eropa cenderung kecil, sehingga apabila melewati perbatasan ada perbedaan perilaku konsumennya dan jumlahnya tidak banyak. Sedangkan Indonesia memiliki marketplace yang sangat luas, disatu sisi menjadi keuntungan para pengusaha online untuk mengambil jangkauan pasar, tetapi kutukannya adalah terdapat data yang sangat banyak, masif dan sangat bervariasi,” kata Ibrahim.

Untuk mengatasi hal tersebut, menurut lulusan Erasmus Mundus yang akrab disapa Ibam ini memiliki perspektif yang berbeda dalam penyelesaian masalah data, yaitu pengaplikasian Artificial Intelligence (AI) di dalam perusahaan.

Dia mengaminkan juga soal data yang merupakan raja di era Revolusi Industri 4.0.

Data is a king, data speaks louder. Apabila data itu jelek, maka akan kita ‘take down’. Dengan data, maka kita bisa meminimalisir “office politics,” pesan Ibam.

Untuk memulai AI, tidak perlu sulit atau dengan sekolah jenjang doktoral. Intinya adalah mulailah dari hal kecil, kemudian lakukan iterasi data, simpelnya dapat kita gunakan A/B testing untuk memvalidasi nilai dari AI.

Menurtnya, perspektif di Bukalapak, AI digunakan tidak untuk menggantikan manusia, melainkan sangat membantu produktivitas manusia. Contoh kasusnya yaitu digunakan untuk menyelesaikan masalah keluhan konsumen.

Setelah mendapatkan pembekalan, anak-anak muda terpilih diajak mengunjungi kantor BukaLapak untuk melihat sekaligus belajar secara langsung bagaimana industri start-up digerakan.

bl1

Close