Cerita tentang Emak, Kartini, dan Tanggung Jawab Pendidikan

Cerita tentang Emak, Kartini, dan Tanggung Jawab Pendidikan

Cerita tentang Emak, Kartini, dan Tanggung Jawab Pendidikan

JAKARTA - Kantor Staf Presiden menggelar bedah buku bertema perempuan, dalam rangka merayakan Hari Kartini. Menghadirkan penulisnya, Hasanudin Abdurrakhman, dan editor buku Nana Listyani, Kamis, 20 April 2017, di Bina Graha, Jakarta. Diskusi dihadiri sejumlah tenaga humas Kementerian dan Lembaga Pemerintah.

Buku ini berkisah tentang ‘emak’ penulisnya. Emak, adalah seorang buta huruf yang tinggal di sebuah kampung terpencil di suatu pulau di Teluk Nibung, Kalimantan Barat. Ia menjadi buta huruf karena dilarang oleh ayahnya untuk belajar membaca dan mengaji. Larangan itu membuatnya menyimpan ‘dendam’, yang membuatnya bertekad untuk mendidik 8 anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Hasanudin, atau sering dipanggil Kang Hasan, adalah anak bungsu dari delapan bersaudara yang lahir dari rahim ‘Emak’. Lewat buku ini, Hasan bercerita, bagaimana emaknya harus mengantar anak sulungnya naik sampan 3-4 jam untuk dapat menikmati bangku sekolah. Ketika anak keduanya mulai masuk ke bangku sekolah, sang emak tak putus akal. Ia bujuk suaminya untuk membangun sekolah di kampungnya sendiri, sehingga ia tak perlu lagi mengayuh sampan berjam-jam untuk mengantar anaknya sekolah. Lalu keluarga itu mengajak orang-orang sekampung membangun gubuk untuk sekolah, sekaligus mencari guru yang mau mengajar di kampung terpencil itu.

Kang Hasan bercerita, di tempat itu pulalah ia bersekolah. Ringkas cerita, sang emak yang buta huruf berhasil mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan. Anak sulungnya, kini menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi, sedangkan Kang Hasan, berhasil menyelesaikan pendidikan doktor fisikanya di Jepang melalui beasiswa.

Dengan segala keterbatasannya, “Emak tak mau keluarganya hidup dalam keterbelakangan dan kemiskinan. Dan pendidikanlah yang menjadi jawabannya,” kata Hasan.

Melewati segala bentukan pengalaman hidupnya, Emak berhasil membebaskan diri dari kungkungan kemiskinan. Buku ini secara detail menyingkap perjuangan hidup yang tak mudah Emak Kang Hasan, mulai dari ketika sang emak dan sang ayah mulai membangun keluarga, membuka ladang, membangun kebun kopi dan kelapa, sampai dengan berdagang apa saja keluar masuk kampung.

TANGGUNG JAWAB KELUARGA

pilihan-2Nana Listyani, editor buku dari Gramedia Pustaka Utama menceritakan, “Emak adalah gambaran dari ibu-ibu dan keluarga Indonesia di tahun 1970-1980-an, yang dengan caranya masing-masing berjuang untuk mendidik anak-anaknya pada masa itu, untuk bersiasat dengan kondisi dan keadaan sehingga anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang layak.”

Nana bercerita, buku ini termasuk unik, lantaran sudah dicetak ulang sebelum buku tersebut beredar di toko-toko buku konvensional. “Ketika cetakan pertama dibuat, buku itu langsung habis terserap melalui penjualan secara online, maupun dari banyak WA group,” ujarnya.

Hasan menambahkan, bahwa keinginannya untuk menulis kisah tentang emaknya berangkat dari hasratnya untuk membagikan pengalaman-pengalaman hidup masa kecilnya, perjuangan emaknya, sampai dengan ketika sekarang ini ia dan keluarganya menciptakan iklim pendidikan yang ideal di rumahnya. “Kita tidak bisa menyerahkan pendidikan anak kepada sekolah. Sekolah tidak bisa dibayangkan seperti jasa laundry. Kita masukkan baju kotor, membayar, lalu datang kembali dengan baju yang sudah bersih dan rapi.” Kang Hasan menambahkan, sekolah itu seperti outsourcing atau alih daya saja. Tanggung jawab paling utama adalah di dalam keluarga.

Selamat Hari Kartini, Perempuan Indonesia. Selamat Hari Kartini, para pahlawan keluarga!

pilihan-3

Close