Cegah Stunting, Jatim Fokus Selamatkan Seribu Hari Pertama Kehidupan

Cegah Stunting, Jatim Fokus Selamatkan Seribu Hari Pertama Kehidupan

Cegah Stunting, Jatim Fokus Selamatkan Seribu Hari Pertama Kehidupan

SURABAYA - Kantor Staf Presiden mendorong komitmen kepala daerah dalam pencegahan stunting di daerahnya. Setelah deklarasi di tingkat nasional dan provinsi Jakarta, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan, pada Jumat, 14 Desember 2018, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Yogyakarta juga mendeklarasikan Komitmen Pencegahan Stunting.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekuranga gizi yang kronis pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak anak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Sinergitas program dari 17 Kementerian/Lembaga berhasil mengantarkan Pemerintah RI untuk menurunkan prevalensi stunting dari 37, 2 % (2013) menjadi 30, 8 % (2018).  Kepala Staf Presiden, DR. Moeldoko, secara konsisten memperkuat adanya Kerja Bersama Pemeritah Pusat-Daerah, Dunia usaha dan organisasi masyarakat sipil dalam Pencegahan Stunting agar stunting di Indonesia terus turun hingga angka yang direkomendasikan oleh WHO sebesar 20%.

Upaya pencegahan stunting tidak terlepas dari Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dan Gerakan Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat (Gernas PPGM). Lagu ‘Cegah Stunting’ karya akademisi Universitas Padjajaran mengiringi senam bersama baik di Surabaya maupun di Jogja, sedangkan pemeriksaan status gizi, konsultasi dan edukasi gizi dilakukan dengan kontribusi organisasi profesi dan masyarakat sipil serta dunia usaha.

Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari menegaskan bahwa masalah stunting harus segera diatasi karena berkaitan dengan  investasi pemerintah di bidang pendidikan.

“Setelah tahun 2035, setelah bonus demografi, penduduk usia tidak produktif akan lebih banyak daripada penduduk usia produktif, berarti beban penduduk usia produktif lebih berat. Jika penduduk usia produktifnya stunting, produktivitas Indonesia akan makin rendah”, ungkap Denni.

Stunting bukan gizi buruk, tetapi gizi buruk pada usia anak di bawah dua tahun jika tidak ditangani dapat menyebabkan stunting. Jika orientasi kita adalah kualitas Sumber Daya Manusia, maka menjamin pola pangan, pola asuh dan sanitasi yang baik pada semua ibu hamil dan balita adalah upaya pencegahan stunting yang sesungguhnya, demikian Brian, tenaga ahli utama kedeputian III menekankan.

Ditandai dengan pelepasan balon warna pastel hijau, biru dan pink sebagai simbol tiga pesan kunci Pencegahan Stunting, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, mendeklarasikan Gerakan Pencegahan Stunting Provinsi Jawa Timur bersama Ketua TP-PKK Provinsi, Deputi III Kepala Staf Kepresidenan dan perwakilan 11 Kabupaten prioritas penurunan stunting di Provinsi Jawa Timur. Acara ini dihadiri oleh 1.800 orang yang terdiri dari remaja putri, kader PKK, dan organisasi perangkat daerah lintas sektor Provinsi Jawa Timur. sby2

Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jawa Timur, menjelaskan bahwa Jawa Timur mempunyai solusi terobosan untuk Pencegahan Stunting, yaitu Taman Posyandu. Sebuah layanan tumbuh kembang yang holistik integratif tiga komponen: Posyandu, PAUD dan Bina Keluarga Balita. "Taman Posyandu mengurusi 1000 hari pertama kehidupan sejak anak dalam kandungan. Saat ini ada 12.227 Taman Posyandu di Jatim" ungkap Soekarwo. Soekarwo mengapresiasi para relawan kader posyandu dan menambahkan PKK sebagai organisasi yang keberadaannya sampai dasa wisma dapat terus berperan aktif dalam menggalakkan program Taman Posyandu.

Pada kesempatan ini, Ketua TP-PKK Provinsi Jawa Timur, Nina Soekarwo, memimpin gerakan minum tablet tambah darah bersama siswi SMA/MAN yang hadir. Nina mengatakan anggapan remaja bahwa kurus adalah cantik menjadikan asupan gizi remaja kurang optimal akibat diet yang berlebihan. Padahal remaja putri harus sehat dan status gizinya baik, karena fungsi reproduksi remaja putri memudahkan terjadinya anemia. Untuk itu, sosok yang akrab dipanggil Bude Karwo ini menekankan pentingnya minum tablet tambah darah 1 minggu sekali agar remaja tidak anemia, disamping juga makan dalam jumlah yang cukup dengan gizi seimbang.

Edukasi pencegahan stunting disampaikan melalui talkshow interaktif oleh Cak Suro, komedian Jawa Timur, Alshya Sekar Amaranggana Wibowo Putri Indonesia Jawa Timur 2018 dan dr. A. Suryawan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia. Selain pameran program pencegahan stunting dari lintas SKPD, acara ini juga didukung oleh beragam kegiatan konsultasi dan edukasi gizi oleh SEHATI Tele CTG,  CIMSA Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Program Gizi Poltekes Surabaya, serta beberapa organisasi masyarakat sipil, lembaga filantropi dan dunia usaha seperti Indofood, GAIN, Nutrition Indonesia, La Tulippe Cosnetics,, Fiber Cream dan Gerakan Membangun Bangsa.

Close