Bijak dan Cerdas di Era Digital

Bijak dan Cerdas di Era Digital

Bijak dan Cerdas di Era Digital

JAKARTA - Kemajuan teknologi khususnya Teknologi Informasi saat ini melahirkan apa yang disebut Revolusi Industri ke-4 (Industry 4.0) dan era ekonomi baru, ekonomi digital. Di dunia, dari 7,6 milyar manusia, 4 milyar terhubung dengan internet dan 3 milyar menggunakan social media. Di Indonesia, proporsinya tidak berbeda jau: setengah dari seluruh penduduk Indonesia terhubung dengan internet dan menggunakan social media. Situasi ini melahirkan tantangan, dan kadang ancaman, tetapi juga peluang baru. Khususnya bagi mereka generasi muda dan produktif.

Hal ini disampaikan oleh Yanuar Nugroho, Deputi II Kepala Staf Kepresidenan di hadapan lebih dari 600 peserta seminar nasional “Be Discreet in a Digital Ecosystem” di SMA Collegium Canisianum (CC) atau dikenal sebagai Kolese Kanisius Jakarta pada hari Sabtu, 15 September 2018. Seminar ini diadakan dalam rangka 18th Canisius EduFair 2018. Para peserta adalah guru, orang tua murid, masyarakat umum, dan siswa yang kebanyakan adalah siswa tahun akhir di SMA.

cc3Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi millennial di era digital ini adalah bagaimana mereka bersikap terhadap unlimited information yang membanjiri kehidupan mereka. Internet telah diakses secara masif oleh generasi muda ini, terlebih dengan pemanfaatan smart phone. Salah satu dilemanya adalah bahwa banjir informasi tidak selalu membawa manfaat dan kebaikan, namun juga ‘sampah’ dan ‘racun’.

Misalnya, informasi di jaman ekonomi digital ini bisa ikut membantu menentukan pilihan studi atau pilihan kerja. Meski ada kekhawatiran hilangnya sejumlah pekerjaan karena digantikan komputer, mesin, atau robot, juga muncul peluang baru pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan di era digital. “Pengetahuan dan kemampuan tentang data analytics, kecerdasan buatan, dan big data akan menjadi kunci di masa depan,” kata Yanuar. Informasi ini semacam ini amat berguna dan dibutuhkan baik oleh siswa maupun orang tua, bahkan guru, dalam menyiapkan anak didiknya menghadapi masa depan dan dunia kerja.

Pentingnya Nilai Keutamaan Hidup

Namun di samping manfaat yang diperoleh di satu sisi, pada sisi lain mereka dihadapkan pada sebuah kebimbangan, keraguan dan bahkan ketidakjelasan terhadap tujuan hidup dan bagaimana sebaiknya bersikap dalam ledakan digital saat ini. Nilai-nilai dan keutamaan hidup yang sejatinya diperlukan makin kabur.

“Harga yang harus dibayar dengan semua kecepatan dan ke-serba instant-an teknologi hari ini adalah kedangkalan. Semua mau serba cepat; membaca berita hanya dari judulnya; menilai apapun dari apa yang terlihat. Banjir informasi karena teknologi tanpa sadar membuat kita makin dangkal,” tegas Yanuar.

baruyn2Karena itu, “diperlukan sikap dan pemahaman ber-teknologi. Punya teknologi cerdas tidak lantas membuat masyarakat cerdas. Jangan dipikir kalau bisa beli atau punya smart-phone, lantas yang bisa beli itu tiba-tiba cerdas,” candanya namun serius.

Hal ini diperlukan tidak lain agar mereka menjadi lebih bijaksana dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh berita hoaks yang juga membanjiri mereka.

Untuk itulah, di tengah sikap optimis dan harapan yang besar atas munculnya era ekonomi digital ini, lembaga pendidikan harus mempunyai visi untuk mencetak calon pemimpin-pemimpin yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi lebih penting lagi memiliki kompetensi (competence), kesadaran (conscience), welas-asih (compassion), dan komitmen (commitment) sebagai warga Negara.

baruyn1Romo Eduard C Ratu Dopo SJ, Kepala Sekolah SMA Kanisius mengatakan, “Diharapkan melalui kegiatan ini para peserta mendapatkan wawasan lebih terkait perkembangan digital serta semakin bijak memanfaatkan dalam kehidupan mereka.”

Seperti diketahui, saat ini para siswa kelas XII akan segera mengakhiri jenjang pendidikan di tingkat sekolah menengah dan mulai memikirkan tahap selanjutnya: apakah meneruskan ke jenjang pendidikan tinggi, atau langsung masuk ke dunia kerja – mengejar cita-citanya.

Pater Heru Handarto SJ, Rektor Kolese Kanisius, menyampaikan, “Meski banjir informasi, tidak gampang menentukan pilihan studi atau dunia kerja. Masih banyak peserta didik yang penuh dengan keraguan dan kebingungan dalam memilih serta menentukan bidang studi lanjut dan perguruan tinggi yang akan menjadi sasaran dalam meraih cita-cita dan mengembangkan minat serta bakat mereka.”

Menjelaskan pergeseran ketrampilan (skill-shift) yang terjadi di era digital ini, Yanuar menyampaikan bahwa “...yang terpenting bagi lembaga pendidikan adalah bukan untuk mengajarkan tentang apa yang harus dipelajari (what to learn), tetapi bagaimana mempelajari (how to learn). Jaman berubah cepat. Jangan mengajarkan apa yang harus diketahui, melainkan ajarkan cara belajar dan mempelajari hal-hal baru. Itu kunci bertahan di era digital ini.”cc1

Close