Bertemu Aliansi Peduli Papeda, Moeldoko Tekankan Kolaborasi untuk Kemajuan Papua

Bertemu Aliansi Peduli Papeda, Moeldoko Tekankan Kolaborasi untuk Kemajuan Papua

Bertemu Aliansi Peduli Papeda, Moeldoko Tekankan Kolaborasi untuk Kemajuan Papua

JAKARTA – Dunia saat ini berkembang dan bergerak secara luar biasa cepatnya. Perubahan itu ditandai antara lain dengan kompleksitas tinggi yang juga menuntut cara merespon kelas tinggi. Karena itu, sudah saatnya kita juga ikut bergerak dengan cepat seiring kemajuan global era kekinian.

Pernyataan itu disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat menerima Aliansi Peduli Papua Penuh Damai (Papeda) di ruang rapat utama Bina Graha, Kantor Staf Presiden, Jum’at, 13 September 2019.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini pun mengajak tokoh masyarakat Papua untuk bergerak maju.

“Kita harus tinggalkan warisan yang baik untuk anak cucu kita. Ayo berkolaborasi, jangan terus ada pikiran berhadap-hadapan, ‘lu di sana, gua di sini’,” kata Moeldoko.

Purnawirawan jenderal bintang empat yang menjabat Panglima TNI 2013-2015 ini mengingat masa-masa saat dirinya ada di pucuk tertinggi Tentara Nasional Indonesia. “Setiap memberangkatkan prajurit ke Papua, saya selalu tegaskan, ‘Kalian harus membawa cangkul di depan, baru senjata di belakang. Jangan dibalik’,” kenangnya.

Amanat itu mengandung makna bahwa cangkul merupakan simbol kesejahteraan, harus ada di depan. “Kalau penduduk Papua belum biasa bertani, ayo ajarkan cara-cara bertani,” katanya. Sementara itu, senjata sebagai simbol pendekatan kekerasan diletakkan di belakang, hanya digunakan hanya pada saat benar-benar terdesak.

“Ayo, Papua, mari kita sama-sama berkembang. Maju, sebagaimana tekad Presiden Jokowi menuju Indonesia maju tanpa ada yang tertinggal,” ungkapnya.

Bangun Papua dengan disiplin dan kerja keras

pap3Pada pertemuan ini, Moeldoko didampingi Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Bidang Kajian Politik dan Pengelolaan Isu-isu Hukum, Pertahanan, Keamanan dan HAM dijabat Jaleswari Pramodhawardani.

Sementara dari Aliansi Peduli Papeda (Papua Penuh Damai) antara lain Ketua Aliansi Yulianus Dwaa, anggota Tim Asistensi RUU Otsus Papua 2001 Frans Maniagasi, Tokoh Pemuda Adat Mepago Fransiskus Magai, Tokoh Pemuda Saireri Petrodes Mercianus Mega Setiawan Keliduan, Tokoh Pemuda Paguyuban Nusantara di Papua Agam Maulana, Tokoh Pemuda Adat TABI Budi Projonegoro Yocku, Tokoh Pemuda Boberai Manokwari Yotam Senis, Tokoh Pemuda Lapago Iniki Wonda, Tokoh Pemuda Ada Ahanim Merauke Marsel Morim dan Tokoh Pemuda Adat Domberai Rahman Urbun.

“Persoalan Papua saat ini adalah bagaimana meminimalisir kesenjangan ekonomi antara warga pendatang dengan orang asli Papua, serta antara Papua dan wilayah-wilayah lain di Indonesia,” kata Frans Maniagasi.

Apresiasi atas pertemuan ini disampaikan oleh juru bicara Aliansi Peduli Papeda Mega Keliduan.

“Kami melihat Pak Moeldoko sebagai ‘jenderal’ yang masih bisa berdiri tegak lurus untuk persoalan kemanusiaan demi kedamaian di tanah Papua. Oleh sebab itu kami merasa perlu untuk bertatap muka dengan beliau seraya momohon arahan dan kerjasamanya dalam visi dan misi kami ke depan. Agar jangan ada lagi duka dan airmata serta perbedaan yang sangat kental bagi Papua,” kata mantan Ketua BEM Universitas Cenderawasih ini.

Juga hadir pada pertemuan ini, dosen Universitas Gadjah Mada yang juga anggota Gugus Tugas UGM Bambang Purwoko serta tokoh media Arya Sinulingga.

“Kerja keras, disiplin, etos kerja tinggi, dan berprestasi. Hal-hal itu selalu kami tekankan pada mahasiswa Papua yang tengah menempuh studi di luar Papua. Kami juga mengajak mereka, bahwa membangun Papua pun bisa dari Jakarta, misalnya dengan menembus posisi menjadi pejabat terkemuka negeri ini,” kata Bambang Purwoko.

Sementara itu, Arya Sinulangga mengapresiasi pendekatan dialog yang dilakukan antara tokoh Papua dan Kantor Staf Presiden.

“Penyelesaian seperti ini bagus. Ada di tengah-tengah. Tidak kiri sekali atau kanan sekali,” ungkap Arya.pa1

Close